Gina S.Noer adalah salah satu storyteller film Indonesia terbaik saat ini. Sejak masih berstatus sebagai penulis skenario, ia telah membuktikannya dengan menghasilkan film seperti Ayat-Ayat Cinta dan Habibie & Ainun. Memulai debut sebagai sutradara di film Dua Garis Biru tiga tahun lalu, Gina semakin memantapkan kapasitas dalam penyutradaraan di film Like & Share sebagai bentuk keresahan terhadap isu-isu perempuan yang semakin mengkhawatirkan.
Mengutip informasi sekilas di filmnya, ada dua juta lebih kasus kekerasan seksual pada perempuan di Indonesia sampai saat ini dan sebagian korban adalah remaja berusia 15 sampai 17 tahun. Berangkat darisana, Gina yang juga kembali menulis skenario untuk film ketiganya ini menampilkan karakter Lisa (Aurora Ribero) dan Sarah (Arawinda Kirana) sebagai tokoh utama yang berkutat pada isu pencarian jati diri, keluarga, sexual abuse, dan tentu saja persahabatan keduanya.
Gemar membuat video ASMR (Autonomous Sensory Meridian Response) hingga membuat channel video khusus, Lisa dan Sarah menemukan keakraban dan ketenangan sembari menjalani kehidupan sebagai siswa SMA. Lisa diceritakan beribu seorang mualaf dan menikah lagi dengan laki-laki Indonesia muslim taat yang mempunyai usaha lalapan seafood. Sarah berasal dari keluarga berada dan hanya tinggal dengan abangnya (Kevin Julio) setelah orang tua Sarah meninggal.
Kepribadian dan latar mereka masing-masing memberi warna dan cerita baru untuk film ini. Lisa yang gamang dan sedikit rapuh serta Sarah yang lebih percaya diri dan booster bagi Lisa dalam perjalanan sebagai remaja. Masa eksplorasi Lisa dan Sarah membawa mereka pada cerita baru. Berawal dari kecanduan konten porno, Lisa terobesi pada Fita (Aulia Sarah), orang yang ia sadar betul sebagai orang yang sama pada video 'Bokep HP Jatoh' yang ia gemari belakangan sampai ia bertemu langsung dengan sosok Fita. Sarah bertemu dengan Devan (Jerome Kurnia), laki-laki yang sepuluh tahun lebih tua darinya dan menjadi pacarnya. Eksplorasi mereka semakin luas.
Film tentang perempuan yang dibuat oleh sutradara perempuan. Gina S.Noer amat mengerti apa yang ia ingin tuturkan. Keresahan dan isu-isu yang dibawa sangat dekat bagi perempuan yang mungkin sebagian masih dianggap tabu, misalnya soal masturbasi. Di suatu adegan, Lisa kepergok oleh ibunya menonton video Fita dan dinasihati dengan bumbu agamis. Video ASMR yang dibuat Lisa juga dianggap menyimpang oleh ibunya karena mencari ketenangan seharusnya dengan cara sholat dan ngaji, pula memasang wallpaper hp lafaz Allah bukan dengan foto berdua bersama Sarah. Gina mengungkap fakta yang sering terjadi dalam bentuk benturan agama dengan seksualitas, yang juga sebagai pemantik kegamangan karakter Lisa bahwa ia kecanduan konten porno tapi takut masuk neraka.
Secara kompleksitas, cerita di Like & Share terlihat lebih mengikat ke Lisa dengan isu keluarga, psikologis, atau mungkin orientasi seksual yang walaupun tidak secara gamblang ditampilkan, terlihat subtil dan verbal yang berhasil dibawakan sangat baik oleh Aurora Ribero. Ia menghidupkan Lisa dengan sorot mata, bahasa tubuh dan tuturan dialog yang pas dengan perjalananan karakternya. Film juga memperhatikan dengan baik detail karakter, dimana pada Lisa penampilan dan rambutnya lebih tidak teratur apabila saat tidak bersama Sarah yang lebih modis dan berani. Interaaksi Lisa dengan ibunya dan dengan Fita menjelang akhir cerita adalah part terbaik dalam proses karakter ini.
Karakter Sarah juga tidak kalah pentingnya karena isu utama yang diangkat ada padanya. Arawinda Kirana kembali dengan usaha maksimal setelah menjadi aktris terbaik berkat film Yuni. Hubungan Sarah dengan Devan yang awalnya adalah sosok pria dewasa yang baik menjadi manipulatif dan bertindak keras secara seksual pada Sarah yang baru menginjak 18 tahun. Penggambaran dan karakter yang sangat realistis pada bagian ini dapat memberi efek tidak nyaman sehingga film dengan bijak memberi Trigger Warning sebelum penayangan. Sarah yang awalnya berani dan kuat terjerumus jatuh dan rapuh seketika saat aibnya tersebar luas. Kinerja lembaga hukum ikut disorot pada bagian cerita ini yang sudah menjadi pengalaman banyak penyintas di dunia nyata khususnya bagi perempuan.
Cerita Like & Share memang mengandung banyak topik dan isu yang diangkat. Selain Lisa dan Sarah, Fita dan Devan sebagai sidekick juga mendapat porsi sorot yang kuat untuk perjalananan tokoh utama. Pada masing-masing cerita Lisa dan Sarah, lingkup keluarga juga kembali mendapat perhatian dan perannya sebagai support system. Lisa yang berjarak dengan ibunya belajar untuk membangun keakraban lagi, Abang Sarah ditampilkan sangat suportif saat membantu kasus adiknya. Bagaimana hubungan keluarga amat membantu pada proses perjalanan anak usia remaja.
Cerita yang penuh isu dan kompleks tadi memang akan terasa sesak apalagi Gina berusaha ingin membagi porsi Lisa dan Sarah secara adil sebagai individu dan sebagai sahabat. Masalah hampir serupa seperti Dua Garis Biru, penceritaan Like & Share sedikit goyah dan kebingungan selepas babak proses hukum Sarah. Seolah film akan usai tapi ternyata masih tetap ada yang ingin diceritakan, Penonton juga harus membagi rasa dan fokus dengan scene bolak balik antara Lisa dan Sarah, yang untungnya sukses ditutup dengan kesan yang powerful.
Membawa isu yang kuat dengan sensitivitas merangkai cerita khas Gina, Like and Share merupakan kejutan sekali lagi untuk film Indonesia tahun ini. Tidak hanya kuat secara isu dan mampu tampil begitu realistis dengan riset mendalam, sisi teknis juga amat diperhatikan melalui penggunaan warna-warna cerah namun cenderung gelap, rasio 4:3 untuk menciptakan intimasi dengan karakter, tata kamera dinamis, editing yang rapih, dan tata suara serta musik yang mampu membangun mood khususnya pada adegan video ASMR. Directing yang memukau didukung kebolehan aktor yang kuat dan saling mengisi, Like & Share menjadi paket lengkap sebagai tontonan drama reflektif yang memberi edukasi, nilai sekaligus tamparan bagi penonton. Melalui film ini, Gina ingin membuka diskusi terkait kehidupan remaja perempuan, sekaligus menegaskan betapa mengkhawatirkannya isu kekerasan seksual yang sayangnya tidak baik-baik saja bahkan secara sistemik. Hanya ada pelaku dan korban, dan hanya dari kesadaran individu untuk bisa mencegahnya. Slogan 'Lihat. Dengar. Rasakan' yang tidak sebatas untuk menikmati video ASMR.
9.0/10
Share This :


0 comments