Secara psikologis, manusia dengan ego-egonya bisa jadi satu hal paling kompleks di muka bumi. Tidak selalu absolut kayak matematika, yang kadang perlu waktu dan ruang lebih untuk minimal bisa mengontolnya. Ini baru bicara soal ego manusia satu orang, what if dua manusia yang mau membina hubungan jangka panjang (baca: menikah) tapi masih terpenjara dengan egonya sendiri? Perspektif itulah yang kita dapatkan di karya ketiga sutradara Bene Dion Rajagukguk (Ghost Writer, Ngeri-Ngeri Sedap) di Ganjil Genap yang bergenre komedi romantis, dan dengan senang hati saya masukkan ke list film Indonesia terbaik 2023.
Walaupun gak sepenuhnya relate dengan tema utama yang dihadirkan, ku tetap terhibur sekaligus termenung selama menyaksikan tiga insan di Ganjil Genap yang lagi berkutat soal komitmen, cinta, dan patah hati. Pacaran delapan tahun, Gala (Clara Bernadeth) diputuskan sepihak sama Bara (Baskara Mahendra). Tentu gak mudah buat Gala untuk sembuh dan move on, sampai di satu momen Gala yang masih mengganjil, ketemu dengan Aiman (Oka Antara), yang dia pikir bakal menggenapi hati dan dirinya lagi. Tapi apa iya Aiman memang orang yang ditakdirkan buat menggantikan posisi Bara, kalau ternyata dia juga menganut prinsip 'cinta usianya cuma empat tahun, sisanya komitmen' ditambah ekor "aku belum siap dengan komitmen"?
Film Ganjil Genap diadaptasi dari novel metropop berjudul sama karangan Almira Bastari. Sebagai yang termasuk belum baca bukunya, mudah mengatakan film ketiga Bene ini sangat berhasil membawa aura kehidupan pemuda pemudi urban ke keseluruhan tampilan film. Mulai dari setting gedung tinggi dan lanskap Jakarta tempat para karakternya hidup dan berkarir, outfit dan pernak pernik, cara mereka sosialisasi, dan tentu saja aturan Ganjil Genap yang ada disana. Nonton Ganjil Genap ngingetin ke film Twivortiare yang juga produksi MD Pictures dan adaptasi novel metropop.
Mengangkat cerita roman dewasa berlatar ibukota, bikin Ganjil genap diisi karakter yang juga beragam sudut pandangnya. Tapi yang terpenting adalah bagaimana, terutama ketiga karakter utama memandang cinta, pernikahan dan komitmen. Gala, Aiman dan Bara sama-sama punya motivasi. Skrip dan penyutradaraan Bene yang mengolah betul-betul ketiga karakter ini. Stake untuk menerima konflik, belajar, dan tumbuh, untuk diri sendiri dan pasangan kelak.
Sebagai 'supir utama', Gala dimainkan maksimal oleh Clara Bernadeth. Film Ganjil Genap jadi peran utamanya yang kesekian kali di akting, tapi yang bisa kocak, punya kedalaman dan emosi yang padat dan pas cuma di Ganjil Genap. Bukan pekerjaan mudah punya karakter yang cukup kompleks seperti Gala, tapi seperti Bara dan Aiman yang demen sama Gala karena orangnya funny, thank's to Bene dan Clara yang bikin cerita dan karakter Gala begitu hidup.
Gala bisa 'hidup' dengan kuat juga disokong orang-orang di sekelilingnya. Aiman yang diperankan Oka Antara tipikal laki-laki matang yang ternyata juga masih ragu dengan komitmen karena alasan masa lalu, dan Bara yang dimainkan Baskara Mahendra si problematik tapi tetap manusiawi. Urusan departemen akting gak perlu worry karena ketiganya sudah paten dengan caranya masing-masing.
Tapi favorit personal adalah gimana tandemnya Gala dengan sahabat-sahabatnya, Nandi (Joshua Suherman) dan Sydney (Nadine Alaexandra). Tipikal pertemanan yang bakal bikin iri. Kompak, rame, mau mendengar, memberi saran dengan bijak dan tentu saja aksi-aksi komikal dari celotehan atau kejadian absurd terasa natural. Satu hightlight adalah momen Gala dan Nandi pakai baju pink. Believe me 😆
Menggaet Bene sebagai sutradara, jelas antisipasi ke gimana suguhan komedi dibawakan seperti Ghost Writer dan Ngeri-Ngeri Sedap. Secara tone dan penghidangan, komedi di Ganjil Genap lebih pas dan berhasil dari kedua film sebelumnya. Tema yang dewasa bisa beriringan dengan celotehan karakter atau situasi yang dibuat skrip. Keduanya saling berkait, saling membantu menciptakan tawa di banyak momen. Bene juga gak lupa dengan unsur drama yang dibangun bertahap dan mendetail sejak film dimulai ketika kita diperlihatkan fase demi fase hubungan Gala dan Bara dari tahun pertama.
Durasi 124 menit tidak terasa selama itu di film ini karena dipakai dengan maksimal untuk membangun cerita dan karakter yang kuat, peran pendukung yang begitu menyokong, serta emosi dan tawa yang tertata rapi dan kuat. Manis, senyum, tawa, haru, dan bermakna. Cerita pre marriage yang ngasih tau kalau sebelum nikah aja dua kepala dan pikiran yang mau bertaut di dalamnya mesti bisa ketemu dulu di tengah. karena setelahnya di perjalanan yang lebih panjang, bentuk komitmennya juga lebih kompleks, Cinta, penerimaan, kehilangan, belajar, dan tumbuh.
Ganjil Genap boleh dikatakan jadi salah satu dari jajaran film komedi romantis lokal terbaik yang pernah ada. Bahkan ini jadi film dari rumah produksi MD Pictures terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Almira Bastari selaku pemilik cerita asli, pasti sampai detik ini amat bangga buku pertamanya yang jadi film begitu banyak dapat respon positif. Bene Dion yang semakin membuktikan kapasitasnya sebagai filmaker. Personally, ku berharap MD Pictures sebagai rumah pencetak film box office 10 juta umat masih punya kuasa dan semangat untuk bikin film yang kaya rasa dan makna kayak Ganjil Genap.
9.0/10
Share This :


0 comments