-->
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

15 Film Indonesia Terbaik 2022 Versi Keputusan Hakim

Saturday, December 31, 2022



Tahun 2022 menjadi kebangkitan untuk film Indonesia setelah dua tahun goyah akibat pandemi. Terasa kembali semarak karena selain bangkit secara animo masyarakat sampai membawa KKN di Desa Penari sebagai film Indonesia terlaris sepanjang masa dengan raihan angka 9,2 juta, 2022 juga diisi oleh banyaknya jajaran film bagus dengan ragam cerita dan genre, walaupun horror yang akhirnya paling mendominasi secara jumlah massa.

Berikut adalah daftar film Indonesia terbaik di 2022 keputusan Hakim, yang ditonton di bioskop maupun via streaming. Percayalah, cukup sulit membuat daftar ini karena hampir 95 persen film yang ditonton mampu meninggalkan kesan "Bagus nih filmnya", atau "Wahh...keren!!!".  Daftar 15 film ini sengaja dibuat pas sedemikian untuk menyeimbangkan selera subjektif pribadi dan objektifitas ke filmnya sendiri, maka dari itu ada daftar tambahan semacam penghargaan khusus, karena hampir semua yang ada di dalamnya adalah favorit pribadi dan layak secara kualitas. Hakim memutuskan penghargaan khusus diberikan kepada:

5. Mumun
Karya horror terbaik dari Rizal Mantovasi dan rumah produksi Dee Company sejauh ini. Keduanya berhasil menghadirkan efek nostalgia dari sajian horor televisi Jadi Pocong yang hits di era 2000an dengan nuansa kehijauan konsisten di artistik dan kostum, akting memukau Acha Septriasa sebagai Mumun, momen drama yang tampil cukup solid dan tentu saja horror yang seram dan fun berkat latar Betawi dan adanya bumbu komedi.

4. My Sassy Girl
Adaptasi film laris Korea Selatan era 2000an dibawah bendera Falcon Pictures. Fajar Bustomi menghadirkan sajian romantic comedy diikuti momen drama cukup kelam yang dibawakan oleh permainan akting Jefri Nichol dan Tiara Andini dalam debut layar lebarnya. Selain cerita dan kebolehan dua peman utama, sisi teknis film juga diperhatikan dengan penggunaan warna-warna cerah berpastel nan lembut yang menguatkan sisi manis dan romantis sesuai tujuan film ini.

3. Mendarat Darurat
Pandji Pragiwaksono menghadirkan film kedua sebagai sutradara dengan cerita seputar rumah tangga dan perselingkuhan yang ternyata membawa kedalaman konflik dan cerita yang dalam, khususnya pada penggambaran Luna Maya sebagai peran utama namun dengan karakter sebagai orang ketiga diantara Reza Rahadian dan Marissa Anita. Mereka bertiga adalah kekuatan terbesar yang dimiliki oleh film ini, selain babak komedi yang cenderung hit and miss juga tata produksi yang mumpuni berkat naungan MD Pictures a,k.a Manoj Punjabi Production.

4. Sayap-Sayap Patah
Film yang tidak terasa menggebu dan ambisius dalam menceritakan tokoh-tokoh pasukan keamanan negara meskipun mengangkat kisah yang diadaptasi dari peristiwa nyata kerusuhan Mako Brimob tahun 2018. What i got only the power of love and humanity, yang dikomandoi oleh penampilan Nicholas Saputra dan Ariel Tatum dengan kisah romansa manis mereka sebagai suami istri yang membarengi cerita kemanusiaan dalam tregedi kerusuhan di Mako Brimob.

5. Cek Toko Sebelah 2
Melanjutkan kisah di film pertama yang rilis enam tahun lalu, CTS 2 membawa kembali kisah Koh Afuk, Erwin dan Natalie, Yohan dan Ayu dengan cerita dan sudut pandang baru, khususnya pada Ayu dan Natalie yang dikupas lebih dalam. Laura Basuki adalah sesungguhnya kejutan bagi film ini, yang membawa Natalie begitu manis dan charming dan tentu saja dengan bobot emosi yang diemban lebih banyak. Membawa isu tentang persiapan pernikahan dan child free, yang rasanya akan banyak relate pada pasangan atau keluarga manapun.

So, here we go. Keputusan Hakim untuk 15 film Indonesia terbaik 2022:


Nama Kimo Stamboel adalah pelaku terbesar yang membawa Ivanna menjadi paling top diantara Danur Universe. Membawa pendekatan cerita dan teror yang lebih gory dibanding kakaknya, Ivanna menjadikan teror tanpa ampun dari hantu noni Belanda tanpa kepala dengan latar hari raya Idul Fitri ini tampil seru dan seram walaupun masih memiliki alur yang generik khas horror. Namun kepedulian pada cerita mampu ditunjukkan dengan tidak buru-buru menampilkan suguhan utama dan membawa penonton terlebih dahulu pada karakter Ambar dan penghuni panti lainnya, untuk kemudian digempur teror berdarah khas Kimo.


Falcon Pictures membawa kesempatan sebagai wakil Indonesia untuk membuat remake dari film Perfect Strangers asal Italia yang memegang rekor global sebagai film dengan versi adaptasi terbanyak.  Menceritakan tujuh sahabat yang berkumpul bersama pada makan malam saat gerhana bulan yang berujung pada permainan saling melihat isi handphone satu sama lain. Darisana satu persatu tabir mereka terkuak, rahasia terbongkar dan makin mempertanyakan eksistensi hubungan pertemanan yang sesungguhnya. Cerita yang akan sangat mudah kena ke banyak penonton Diisi oleh ensemble cast dengan karakter yang dihidupkan dengan lepas dan mantap oleh masing-masing dari mereka.


Diluar kontroversi terkait film ini yang justru melibatkan salah satu tim penulis melakukan tindakan yang jadi isu filmnya, Penyalin Cahaya debut karya Wregas Bhanuteja harus diakui berhasil membangun cerita dan ketegangan menyoal kasus yang menimpa Suryani (Shenina Cinnamon). Membalut isu kekerasan seksual dengan pendekatan misteri, Penyalin Cahaya membangun dunianya dengan sarat detil sekecil penelusuran menggunakan aplikasi taxi online dan database korban. Tone warna hijau tua yang mewarnai alur cerita juga semakin menambah daya kelam dan gelapnya film ini.


Erisca Febriani termasuk salah satu penulis novel remaja yang beruntung, karena sejak Dear Nathan, versi filmnya sukses dan banyak mendapat ulasan positif serta makin melambungkan nama Jefri Nichol dan Amanda Rawles. Thank You Salma menjadi seri penutup kisah Nathan dan Salma yang masih tetap manis dan terus tumbuh seiring perjalanan usia mereka. Namun memang dasarnya materi novel sudah mempunyai kekuatan yang bagus untuk diceritakan. Setelah membawa isu keluarga dan self love, Thank You Salma hadir dengan isu kekerasan seksual yang makin jadi perhatian di era sekarang. Bagusnya adalah isu ini bisa terblend dengan baik ke kisah Nathan-Salma, juga ke karakter lainnya.


Adaptasi dari buku best seller tanah air karya A.Fuadi. Sebagai yang membaca bukunya, saya puas dengan film Ranah 3 Warna, yang tetap mempertahankan mantra 'Man Shabara Zhafira' sebagai core cerita dari karakter utama, Alif (Arbani Yasiz). Diluar itu, sebagai sajian film, Ranah 3 Warna juga tampil solid dengan karakterisasi Alif yang kokoh dan realistis dalam usahanya menggapai impian. Walaupun film ini kental dengan nuansa Islam, tapi dialog dan ceritanya tidak terasa berceramah dan pesannya juga bisa sangat universal, karena setiap orang pasti pernah ada di posisi Alif yang bergemelut dengan mimpi dan tanggung jawab sebagai anak dalam keluarga.


Rencana awal tayang tanggal 6 Oktober kemudian diundur ke 17 November dengan alasan untuk mematangkan polesan filmnya seperti CGI dan efek visual. Sri Asih tampil sangat entertaining, fun, namun tidak lupa untuk membangun dunia dan ceritanya sebagai bagian dari semesta Bumilangit Cinematic Universe selepas Gundala. Film ini seolah menakdirkan Pevita Pearce sebagai karakter utama yang sangat berhasil mengemban kekuatan sebagai perempuan jagoan. Pertarungan di babak akhir dengan villain besar sukses bikin melotot dan menganga selebarnya. SO EPIC!!!


Karya perdana yang rilis dari Fajar Nugros bersama PH naungannya, IDN Pictures membuat saya yang tidak begitu mengenal kelompok lawak Srimulat, bisa terhibur dan tertawa pada film yang mengadaptasi kisah awal karir kelompok Srimulat yang sudah dikenal dan mulai megembara ke Jakarta. Memiliki daya komedi yang gila-gilaan berkat kekuatan skenario dan penampilan para pemainnya. Semua diberi kesempatan untuk tampil bersinar menghidupkan kembali karakter sesuai tokoh asli Srimulat, terutama Bio One, Zulfa maharani dan Elang El Gibran. Set produksi juga tampil believeable yang membawa cerita tampil mundur ke era keemasan Srimulat tahun 80an.


Sukses dengan 5,8 juta penonton, Miracle in Cell No.7 memang tontonan yang akan mudah diterima oleh banyak penonton karena relevansi tema yang dibawa. Adaptasi dari film box office Korea Selatan berjudul sama, Miracle in Cell No.7 kembali membuktikan kapasitas Vino G.Bastian sebagai aktor papan atas Indonesia. Tandemnya dengan pemeran sang anak, Graciella Abigail juga menjadi momok ampuh menampilkan cerita kasih sayang antara orang tua dan anak yang harus terpisah akibat sistem dan kuasa keji orang-orang yang katanya berpenggaruh untuk negeri. Mempercayakan Hanung Bramantyo sebagai sutradara menjadi keputusan tepat karena track record yang sudah dilaluinya dalam menggarap drama level bombastis seperti ini.


Mungkin jadi film paling ambisius dari seorang Angga Dwimas Sasongko, yang bahkan sudah terlihat dari premis ceritanya untuk mencuri lukisan Raden Saleh di Istana Negara. Mencuri Raden Salah memang film mahal dan salah satu yang paling menghibur dari Visinema, karena berhasil membawa sajian heist atau pencurian yang jarang dibawakan filmaker kita dan diisi oleh pemain-pemain muda tersohor saat ini. Membawa mereka pun bukan hanya sebagai taktik untuk menarik penonton saja, karena kapasitasnya pun terbukti dengan pembawaan karakter masing-masing didukung cerita yang solid seputar pencurian besar dari pelaku yang masih amatiran. Sisi teknis juga tidak main-main megahnya dari tata kamera, musik, aksi car chase dan fight koreo yang apik yang digawangi oleh Aghniny Haque. Wajar bila film ini menjadi nominasi film terbaik di ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2022


Lagi-lagi Vino G.Bastian. Baru sebulan setelah menjadi ayah pengidap disabilitas, Vino tampil sebagai ustad Qodrat, ahli ruqyah yang harus menolong desanya dari ancaman jahat Jin Assuala. Charles Gozali berhasil membuktikan diri dalam menggarap film horror pertamanya dengan eskalasi keseruan yang dicapai sampai titik maksimum, berkat sajian horor berlemen aksi dan heroik ustad Qodrat bak pahlawan dengan senjata ayat suci Al-Quran. Duet kesekian kali dengan sang istri, Marsha Timothy dalam satu film, merupakan magnet kuat bagi filmnya untuk menyokong cerita seputar agama dan keyakinan, keluarga, juga memaafkan kesalahan masa lalu. Beberapa bagian bahkan tampil cukup gory dengan baluran darah dan kekesaran fisik lempar sana sini yang disokong oleh camera work mengesankan.


Fajar Nugros yang biasanya menggarap genre drama dan komedi terbukti berhasil pula dalam mengarahkan film horor pertamanya ini. Inang mungkin bukan sajian atmosferik seram yang mampu diterima oleh banyak penonton horor mainstream, namun justru daya atmosferik yang pelan-pelan dibangun itu menjadi kekuatan filmnya, sembari membangun cerita dan karakter seputar kehamilan di luar rencana, women empowerment, dan bagaimana adat dan tradisi sudah seperti 'nafas' bagi kehidupan tiap orang yang akan mempengaruhi nilai dan sikapnya di keseharian. Penceritaan Inang yang solid dan rapi juga dibantu Naysillla Mirdad si ratu sinetron yang sukses mengemban PR dalam mengolah rasa dan karakter Wulan. Tak lupa dengan sang ibunda, Lydia Kandau  dan Rukman Rosadi dengan penampilan penuh wibawa yang terselubung.


Gina S.Noer makin memantapkan dirinya sebagai salah satu sutradara perempuan terbaik di Indonesia. Like and Share menjadi medium penumpahan resahnya terkait isu-isu perempuan, khususnya remaja dalam perannya sebagai individu,  bagian dari keluarga dan hubungan asmara dengan lawan jenis. Relevansinya amat meyakinkan, seperti membawa isu masturbasi dengan dalil Al-Quran, pencarian jati diri, orientasi seksual, dunia content creator dari sisi remaja, dan kekerasan seksual. Semua tadi bermuara pada satu inti terkait peran perempuan dalam sistem dan masyarakat yang sampai saat ini masih goyah. Like & Share juga dibawakan dengan teknis yang memukau dan sangat 'filmis' seperti tone warna-warna cerah namun depresif juga rasio 4:3 untuk memberi keintiman pada karakter. Arawinda Kirana sebaagai Lisa bisa dipastikan akan mengisi jajaran nominasi di ajang penghargaan tahun depan.


Film horor terbaik tahun ini. Stravision bersama Monty Tiwa selaku sutradara menjawab tantangan membawa sekuel dari film yang sudah berumur 13 tahun menjadi sajian yang kadar epik dan kegilaannya bisa melebihi sang kakak. Masih memakai gaya mockumentary serupa film pertama, Keramat 2 membawa karakter dan cerita baru yang selain kembali sarat akan film dokumenter pula penyesuaian pada kondisi terkini yaitu vlogging. Satu poin yang membuat Keramat 2 makin unggul adalah masuknya unsur drama yang lebih solid di paruh akhir berkaitan dengan cerita film pertama. Tak heran jika Lutesha dimasukan dalam salah satu poster utama, karena berkatkarakternya film ini bisa berjalan, Tidak lupa dengan Keanu Angelo di debut akting yang akan membuat namanya makin dillirik setelah ini.


The best from Timo Tjahjanto. Membawa rilisan terbarunya langsung di platform OTT sebesar Netflix, membuat Timo mampu memaksimalkan amunisi menyajikan hiburan aksi skala tinggi yang dilebur dengan komedi. Guyonan dan celotehan yang ada mampu membuat tone film tidak sekelam film-film Timo sebelumnya karena aksi yang disuguhkan jadi terasa fun dan entertaining namun tanpa meninggalkan ciri khas membabi buta khas Timo seperti kepala terpenggal, badan terburai dan tentu saja luka lebam sekecil apapun. Secara cerita juga film ini yang paling simpel dan memiliki sisi drama cukup intens yang tidak pernah ada di karya Timo sebelum ini Berkat The Big 4, kita juga akan diperlihatkan sisi kebolehan akting Putri Marino dan Lutesha berperan aksi bagbigbug yang akan mengokohkan nama mereka sebagai aktris papan atas, 


Film yang indah, dan terlalu relate untuk siapun di tahun ini. Adaptasi dari sinetron legendaris era 90an, Noktah Merah Perkawinan membawa cerita utama tentang pasangan suami istri beserta orang ketiga yang menyertai dan disokong akting luar biasa dari ketiga pemainnya. Sensitivitas arahan Sabrina Rochelle Kalangie beserta skripnya membuat film ini mampu memperlihatkan perspektif yang tidak hanya dari sisi ketiga pemain utamanya saja, namun bagaimana konflik yang ada mencuat dan berpengaruh pada orang-orang di sekitar mereka yaitu anak, mertua, bahkan sahabat. Semua pasti pernah ada di posisi seperti mereka, yang harus menanggung beban karena adanya noktah merah dalam perkawinan. Semua karakter di film ini diberi ruang yang cukup sesuai perannya, tidak ada yang sia-sia. Ayu Azhari selaku bintang utama versi sinetron juga hadir di film ini, dan karakternya sebagai psikolog pernikahan juga tampil mengesankan dan penting bagi penceritaan Ambar-Gilang-Yuli. 


Tahun ini terasa spektakuler karena banyaknya film-film yang memberi kesan dan turut senang pula karena banyak yang mencapai kesuksesan secara jumlah penonton dan ulasan positif. Daftar diatas memang belum lengkap dan mungkin belum sempurna. Saya sendiri juga menyayangkan sampai detik ini masih melewatkan film-film bagus lainnya yang banyak dibicarakan oleh penonton lain di tahun ini. Saya juga merasa terlalu berani untuk membuat list diatas seolah sudah menjadi reviewer kredibel padahal baru aktif di blog ini selama tiga bulan, meskipun sudah cerewet sebelumnya di platform Instagram pribadi, tapi saya sekaligus menaruh harap semoga bisa konsisten menulis disini untuk berbagi perspektif soal film dan memberi referensi tontonan kepada teman-teman. Terima kasih untuk 2022 and welcome 2023!

Share This :

0 comments