-->
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

Review Film The Big 4

Tuesday, December 20, 2022

Film aksi komedi karya Timo Tjahjanto, yang berhasil tampil epik, brutal, dan menggila berkat paduan action yang badass dan humor menggila.


Sehari sebelum tulisan ini dibuat, saya sempat flu dan seperti biasa, sakit kepala selalu menyertai. Rencana untuk menuntaskan review ini akhirnya tertunda sambil menunggu pulih. Saat kepala masih sakit, sempat terbayang dengan kepala meledak yang ada di film The Big 4. Si korban dalam adegan itu memang tidak akan merasa sakit karena pasti langsung Innalillahi dan hanya adegan dalam film, tapi tetap saja itu terasa SAKIT berkat keliaran ide gila sutradara action badasss Indonesia, Timo Tjahjanto.

Menjadi karya kedua Timo setelah The Night Comes For Us sebagai film Netflix Original, ia benar-benar mengeluarkan daya semaksimal mungkin untuk membuat film action Indonesia ke level tertinggi. Di The Big 4 terasa beda karena selain bertema aksi juga bernyawa komedi yang tidak pernah Timo masukkan ke film-filmnya terdahulu, namun ia justru berhasil menggandengi serta melebur keduanya dengan begitu baik, juga lagi-lagi yang mencengangkan karena jarang ada di katalog karya Timo yaitu adanya momen dramatik yang cukup intens berkat cerita dan penokohan karakternya.

Elemen terakhir tadi hadir berkat Dina (Putri Marino), seorang polisi muda yang baru dilantik dan hanya tinggal bersama ayahnya selepas sang ibu meninggal. Dina tidak tahu kalau sang ayah ternyata adalah kepala dari kelompok pembunuh bayaran pembasmi kejahatan yang dijuluki The Big 4. Terdiri dari Topan (Abimana Aryasatya), Jenggo (Arie Kriting), Alpha (Lutesha), dan Pelor (Kristo Immanuel). Selepas tewasnya sang ayah yang dibunuh secara misterius, melalui berbagai penyelidikan yang bermuara di Villa Paranais, Pulau Bersi, Dina kemudian justru berkomplot dengan The BIg 4 untuk menuntaskan misteri kematian ayahnya.

Kelima cast tadi merupakan salah satu penyumbang amunisi bagi Timo untuk memaksimalkan karya teranyarnya ini, yang berhasil tampil maksimal dengan karakter masing-masing. Topan sebagai yang tertua dengan wibawa kepemimpinannya, namun juga acap kali mendapat momen-momen komedik. Part menuju akhir film when he said "Sunartooooo" secara reflek membuat tertawa apabila paham dengan konteksnya. Lutesha dengan karakter Alpha yang agresif dan sangar namun tetap bisa melucu berkat salah satu momen epik 'Duyung Senja' dan tampilan ala Lara Croft. Sebuah kejutan dengan berhasil menggaet Putri Marino untuk bermain di ranah komedi aksi setelah begitu dikenal dengan peran drama, yang mana justru ia hadirkan kembali di The Big 4 di momen dramatik perihal hubungan ayah-anak. Bersama Lutesha, mereka menjadi centre lady yang tangguh untuk berlakon adegan aksi secara intens. Tak lupa dengan Arie Kriting yang memiliki Siska si senjata kesayangan, dan Kristo di debut filmnya sebagai beginner diantara yang lain.


Film aksi komedi karya Timo Tjahjanto, yang berhasil tampil epik, brutal, dan menggila berkat paduan action yang badass dan humor menggila.


Dari segi cerita dan alur, bahkan bisa dibilang The Big 4 merupakan yang paling simpel dari seorang TImo walaupun tetap ada unsur pembunuhan, balas dendam dan permainan kepentingan yang secara mengejutkan digunakan sebagai twist di akhir. Sebagai perbandingan dengan The Night Comes For Us yang adalah film action Timo sebelum menggarap dwilogi Sebelum Iblis Menjemput, The Big 4 tidak bertele-tele walau tetap menghadirkan karakter-karakter baru namun fokus dan cerita pada The Big 4 dan Dina tidak sampai terganggu.

Itulah juga, durasi film yang mencapai 141 menit tidak pernah terasa lama, karena The Big 4 berhasil mengcover cerita dengan tatanan aksi yang apik dan dahsyat khas Timo. Untuk yang sudah tahu sebrutal apa The Night Comes For Us, kejutan serupa akan ditemukan lagi di film ini. Senapan dan alat ledakan berbagai bentuk termasuk Lucifer 3000 fart buatan Alpha, adegan laga dengan koreografer apik didukung kamera yang bergerak dinamis, dan sisi teknis yang seniat mungkin untuk sengaja dibuat hancur dan berantakan. Tidak ada yang sia-sia, semua di set untuk mencapai kebrutalan maksimum sampai di tahap memperlihatkan tubuh meledak dan kepala pecah sejelas mungkin di layar. 

Daya seru bertambah karena di setiap ledakan dan adegan laga yang tertata dengan baik, masih diselipi juga dengan humor dari banyolan dan tingkah laku karakter baik dari Dina dan The Big 4 juga Antonio (Marthino Lio) dan kawan-kawannya. Marthino Lio yang baru saja menjadi aktor terbaik dalam ajang FFI 2022 ini juga sukses membawakan karakter villain yang keji sekaligus lucu dengan gaya andalan tari salsanya. 

The Big 4 hasil olah skenarionya bersama dengan Johana Wattimena, Timo yang sudah paham betul dalam mengarahkan film action dan horor yang brutal, kali ini bisa lebih 'slow' dalam penceritaan dengan dialog dan adegan komedi. Meskipun masih ada yang miss namun tidak mengurangi dampak keseruan filmnya secara menyeluruh. Secara tersirat filmnya juga sempat memasuki 'Grey Area' saat bersinggungan konflik antara Dina sebagai polisi dengan eksitensi The BIg 4 dan tugas mereka selama ini. Melaju mantap penuh kepastian dengan tidak banyak pernak pernik penceritaan di tengah durasi, namun jangan sampai lupa dengan kejutan di akhir film termasuk adanya cameo aktris besar yang sepertinya akan membuka jalan menuju pertarungan yang lebih sengit. The best from Timo Tjahjanto so far!


9.5/10

Share This :

0 comments