Nama Ernest Prakasa makin diperhitungkan sebagai sutradara setelah sukses dengan film Cek Toko Sebelah di 2016 lalu. Selain sukses secara jumlah penonton, banyak komentar positif yang mengiringi berkat sensitivitas Ernest meramu drama keluarga yang hangat dengan bombardir komedi yang diisi oleh teman-temannya selaku komika. Kesuksesan film tersebut juga telah melahirkan Cek Toko Sebelah dalam format serial dan yang terbaru adalah sekuel dari filmnya.
Berjarak enam bulan selepas cerita film pertama, sekuel langsung ini melanjutkan kisah Erwin (Ernest Prakasa) dan Natalie (Laura Basuki) beserta Yohan (Dion Wiyoko) dan Ayu (Adinia Wirasti) selepas Koh Afuk (Chew Kin Wah) pensiun mengurus toko. Yohan dan Ayu yang disibukkan dengan studio foto dan toko kue, mendapat permintaan besar dari Koh Afuk yang ini memiliki cucu. Erwin dan Natalie yang ingin mempersiapkan pernikahan mendapat tantangan berat dari Agnes (Maya Hasan), mama Natalie.
Melihat garis besar ceritanya, film kedua ini tidak membicarakan soal toko kelontong lagi karena fokus akan lebih banyak dan dalam pada problem rumah tangga Yohan dan Ayu serta hubungan Erwin dan Natalie juga dengan penokohan mereka khususnya Natalie dan Ayu yang memunculkan sisi lain dari mereka berdua.
Begitu banyak komentar untuk Laura Basuki dari penonton, tapi kehadirannya memang membuat film CTS 2 semakin punya magnet. Ia merupakan faktor yang menampilkan opening scene termanis tahun ini berkat tektokan Laura dan Ernest yang believeable dalam membangun chemistry di momen backstory awal pertemuan Erwin dan Natalie. Hal itu tentunya amat berguna pada terbentuknya kepedulian penonton dengan cerita dan konflik mereka berdua. Kebolehan aktor pemenang dua kali Piala Citra membuat karakter Natalie bergitu charming dibawakan oleh Laura Basuki. Eskalasi emosi beragam bentuk sukses ia tampilkan.
Namun begitu, saya sempat terpikir dengan perbedaan yang cukup mencolok antara Natalie versi Laura dan versi Giselle di film pertama. Perbedaannya ada di karakterisasi sepanjang film, dimana Natalie di film pertama terkesan manja dan angkuh sedangkan di film kedua yang dari awal justru begitu manis dan jauh dari kesan-kesan di film pertama. Mungkin karena kebutuhan cerita untuk membuat sisi dalam Natalie lebih terlihat, maka itu juga yang menjadi alasan untuk merecast perannya. Karakter Ayu juga diperlihatkan sisi lainnya. Di film pertama ia adalah istri penuh perhatian kala Yohan di masa paling rapuh. Ayu yang kali ini tidak ingin memiliki anak mengeluarkan sisi lainnya saat dihadapkan pada Amanda (Widuri Puteri), anak teman Yohan yang dititipkan sementara waktu bersamanya,
Selain pengembangan pada karakter Ayu dan Natalie, peran Agnes dan Amanda juga memberi nilai lebih pada penceritaan filmnya. Maya Hasan tampil bersinar sebagai calon mertua dengan status sosial tinggi yang begitu protektif pada Natalie. Porsi hubungan Natalie dan Erwin yang lebih banyak otomatis membuat lingkaran interaksi mereka bertiga akan terus terhubung hingga film selesai. Sayangnya tidak pada Amanda yang disini diceritakan sebagai pemancing untuk Ayu agar mau memiliki anak, padahal karakter ini juga ditampilkan dengan baik oleh Widuri Puteri. Ada satu momen antara Amanda dan Ayu saling bertatapan yang menyentuh secara emosional, itu karena chemistry yang apik dari Adinia dan Widuri.
Namun dengan tidak membuat Amanda masuk lebih dalam lagi ke dalam cerita justru sudah menjadi pilihan yang tepat, karena konflik di film kedua ini terasa berjalan sendiri-sendiri, tidak seperti di film pertama yang masing-masing dari Yohan, Erwin dan Koh Afuk memiliki kepentingannya dan itu bertemu pada satu hal yaitu toko dan keluarga. Ada begitu banyak pesan yang ingin disampaikan film ini termasuk soal broken family, trauma, dan child free. Maka film ini terasa episodik dan memiliki beberapa tahap penyelesaian cerita untuk masing-masing konflik dan karakter.
Porsi komedi juga tidak semeledak film pertama dengan fokus drama yang lebih terasa. Seperti biasa, porsinya banyak yang tepat sasaran. Gaya komedi khas Ernest dan tim komika yang sukses membuat terpingkal, seperti adegan foto keluarga dan susu kental manis. Namun banyak juga komedi yang terlalu asik berlama-lama dan tidak begitu substansial untuk penceritaan sehingga sempat menimbulkan mode senyap beberapa saat.
Cek Toko Sebelah 2 masih menjadi feel good movie berkat isu dan cerita keluarga yang disajikan oleh Ernest Prakasa dan Meira Anastasia. Penggunaan latar indah tebing Bali menguatkan kesan manis dan romantis, penghantaran komedi dari geng capsa dan karakter lain yang sekali lagi sanggup membuat meledak penonton serta isu terkait relasi hubungan orang tua dan anak yang kali ini tidak hanya bersumber dari keluarga Koh Afuk. CTS 2 mungkin tidak akan seeuforia film pertamanya dan Imperfect dengan cerita yang lebih membulat dan fokus, namun berkat kemampuan olah rasa khas Ernest dan penulisan apiknya, film ini mampu membuat kita melihat sisi lain dan latar belakang karakter yang membuat penokohannya terasa meyakinkan, apalagi dibantu dengan jajaran pemain mengagumkan terutama karakter perempuan, Not the best but still worth to watch.
8,5/10
Share This :


0 comments