-->
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

Review Film Noktah Merah Perkawinan

Saturday, September 17, 2022

 



Hadir lagi salah satu film Indonesia terbaik 2022. Mengadaptasi sinetron legendaris era 1996-1998, Noktah Merah Perkawinan berhasil melakukan modernisasi dari segala lini, dengan tetap berpijak pada inti cerita terkait drama suami istri yang diikuti kehadiran pihak ketiga. Kuncinya adalah kepekaan skenario dan sutradara membawa alurnya beserta konflik ketiga tokoh yang menjadi pusat cerita namun tetap membawa nilai-nilai yang sangat universal, yaitu perihal menjaga komitmen dan ego .

Walaupun setia menggunakan judul versi sinetron, yang di satu sisi justru membuatnya terkesan lebih seksi, namun Noktah Merah Perkawinan mampu melakukan relevansi dan pendalaman terhadap karakter yang akan terhubung dengan penonton era sekarang, sehingga untuk saya pribadi yang masih balita saat sinetronnya edar, masih bisa merasa terhubung dengan guliran kisah versi film ini tanpa memikirkan bagaimana cerita versi dulu.

Sebelas tahun berumah tangga, Ambar dan Gilang berada di tahap kebingungan dan mempertanyakan apa yang salah dengan kondisi pernikahan mereka. Ambar merasa Gilang selalu menghindar ketika diajak diskusi terkait masalah mereka. Gilang merasa Ambar terlalu berlebihan dalam menyampaikan perasaannya. Asik dengan asumsi sendiri, begitu kata Gilang dalam sebuah dialog. Kekhawatiran Ambar makin memuncak saat ia melihat indikasi hubungan antara Gilang dengan Yuli, salah satu muridnya di kelas karya keramik.

Premis yang sangat simpel, tapi berkat skenario yang digarap Titien Wattimena dan Sabrina Rochelle Kalangie yang juga sutradara film ini, kisah Ambar-Gilang-Yuli berhasil dibangun hati-hati dengan dinamika yang berjalan mulus. Namun di satu sisi sebagai penonton saya juga merasa alurnya yang slow burn berpotensi akan menimbulkan kebosanan, karena film ini ingin menunjukkan studi karakter dan cerita yang baik. Buktinya adalah bagaimana keresahan Ambar juga banyak diperlihatkan dengan momen-momen subtil tanpa dialog diiringi musik yang minim irama meledak. Tujuannya agar kita lebih fokus memasuki gelutan batinnya. Begitu juga dengan Gilang yang diperlihatkan kenapa bisa lebih 'lepas' kepada Yuli daripada istrinya, semua tampil dengan jelas. Dengan konflik yang sudah terasa diantara mereka sejak awal, film masih memperlihatkan peran Ambar dan Gilang sebagai orang tua, menujukkan bahwa filmnya ingin tampil serealistis mungkin.
 
Kehadiran Yuli dalam penceritaan walau masih dibalut kebetulan-kebetulan tapi diset dengan masuk akal, berawal dari menjadi murid di kelas Ambar kemudian terlibat dengan Gilang yang berprofesi sebagai arsitektur lanskap untuk mengerjakan projek taman restoran milik Kemal, pacar Yuli. Alasannya bisa semakin dekat dengan Gilang juga murni ditampilkan karena ketertarikan pada inner satu sama lain. Posisi Yuli sebagai perspektif ketiga tidak dianaktirikan dalam memberi dinamika cerita, bahkan sekuen pembuka film justru dimulai bukan dari Ambar atau Gilang tapi dari Yuli yang bertemu dengan konselor pernikahan, Kartika yang diperankan oleh Ambar versi sinetron, Ayu Azhari. 


Film memilih untuk tidak menampilkan isu perselingkuhan sebagai satu-satunya tombol panas karena sejak film berjalan, hubungan Ambar dan Gilang diceritakan sudah tidak baik-baik saja. Film juga memperlihatkan sebab akibat dengan masuk akal. Bagaimana pengaruh dari diri mereka sendiri, faktor dari luar, dan akibat-akibatnya termasuk kepada anak mereka, Bagas dan Ayu. Pembangunan cerita yang dibangun perlahan dan hati-hati ini akan berdampak pada momen puncak pertikaian Ambar dan Gilang, yang ditampilkan dalam salah satu sekuen dahsyat 'Tampar Mas!' dengan modifikasi dari versi sinetron. Sulit untuk menentukan siapa yang benar dan salah, Tindak tanduk Ambar, Gilang, dan Yuli sama-sama berpengaruh besar dalam setiap keputusan yang terjadi. Mereka adalah korban dan juga pelaku untuk satu sama lain akibat ego masing-masing.

Semua kelebihan tadi diperkuat dengan penampilan tiga pemeran sentral. Sudahlah, jika peran dengan penulisan karakter sekuat Ambar, Gilang, dan Yuli, menunjuk nama-nama besar seperti Marsha Timothy, Oka Antara, dan Sheila Dara merupakan pilihan yang tepat. Lamanya jam terbang mereka sekali lagi dibuktikan dengan membawa peran masing-masing yang begitu hidup; keresahan Ambar dengan masa depan pernikahannya, kebimbangan Gilang dengan konflik yang dihadapi dan problematika Yuli sebagai orang ketiga.

Kemunculan Ayu Azhari sebagai Kartika, si konselor pernikahan juga tidak hanya dipakai sebagai gimmick pembawa kesan nostalgia dalam film. Perannya ditampilkan dengan amat  baik sesuai profesi yang diemban. No judgement, mendengar dan mendampingi fase kehidupan klien dengan pembawaan dan tuturan dialog dari Ayu Azhari yang mengingatkan kembali bahwa ia adalah salah satu living legend aktor Indonesia. Ingin sekali rasanya berkonsultasi dengan Kartika selepas menonton film ini 😢

Sisi teknis juga diperhatikan betul untuk mendukung mood menonton sepanjang film. Pewarnaan yang lembut cenderung gloomy dalam tampilan visualnya merepresentasikan bagaimana tuturan film ini yang dibawa dengan cantik tapi juga dipenuhi banyak luka dari karakternya. Diiringi skoring musik dari Ifa Fachir yang sekaligus menjadi komposer untuk main soundtrack Noktah Merah Perkawinan, dengan pembawaan suara yang lirih dan merdu dari Isabel Azhari dan alunan nada-nada lembut yang mengiringi untuk menguatkan roh filmya terutama ketika ditempatkan di salah satu adegan.

Sulit untuk memberi koreksi pada film sebagus ini. Ketika menuju akhir sempat terpikir apakah cerita tidak memberi kilas balik Ambar dan Gilang sebelum sebelas tahun pernikahan, dan ternyata film melakukannya walau sedikit. Penempatannya di akhir justru menjadi bagian penutup yang penuh haru. Sedikit dialog, dengan pengarahan Sabrina dan pembawaan subtil Marsha dan Oka berhasil membawa adegan itu ke level paling mengesankan dalam sebuah sajian drama. Saya belum menikah, tapi pernah merasakan bentuk komitmen serupa tapi tak sama seperti Ambar, Gilang, dan Yuli. Satu hal yang membuatnya sekali lagi berhasil menjadi sajian yang luas adalah bahwa kita semua adalah produk dari pernikahan, seperti Bagas dan Ayu yang juga mendapat porsi untuk diceritakan. Betapa film ini tetap mampu mengembrace nilai-nilai universal dalam bentuk sajian drama keluarga dan pernikahan. Menekankan lagi komitmen dan pernikahan adalah pelajaran seumur hidup.

9,5/10





Share This :

0 comments