-->
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

Review Film Miracle In Cell No.7

Sunday, September 11, 2022

 



Sudah cukup lama tidak rewatch Miracle In Cell No.7 versi Korea, jadi akan sedikit berguna untuk tidak amat detail dalam mengomparasi dengan versi Indonesia, sekalipun secara cerita dan penokohan masih serupa. Dengan materi cerita asli yang sesuai istilah 'penuh dengan bawang', penunjukan sutradara Hanung Bramantyo untuk menggarap versi Indonesia merupakan keputusan tepat bila mengingat bagaimana kiprah beliau di film-film genre drama dalam negeri. Miracle in Cell No.7 menambah lagi daftar karyanya yang sukses sebagai tontonan menyesakkan dan penuh haru.

Dalam versi Hanung, Miracle in Cell No.7 menempatkan aktor Vino G.Bastian dan Graciella Abigail selaku tokoh sentral pemeran bapak dan anak. Mawar De Jongh memerankan Kartika dewasa sebagai pengacara untuk kasus ayahnya. Film ini masih menceritakan kisah drama seorang ayah pengidap disabilitas Dodo Rozak yang hanya hidup berdua dengan anaknya, Kartika selepas kepergian istri tercinta. Hidup mereka penuh kehangatan dalam kesederhanaan dengan profesi Dodo sebagai penjual balon dan Kartika yang lihai mengurus rumah dan ayahnya. Naas bagi mereka karena di suatu hari Dodo dituduh melakukan tindakan kriminal dengan menerobos rumah milik gadis kecil bernama Melati Wibisono hingga membuatnya tewas juga memperkosanya. Ayah Melati, Willy Wibisono yang adalah ketua partai nasional menjebloskan Dodo ke ranah hukum ia hingga ditahan dan divonis hukuman mati sambil menjalani hidup baru di sel nomor tujuh.

Di sel itu Dodo tinggal bersama narapidana lain, ada Japra (Indro Warkop), Jaki (Tora Sudiro), Gepeng (Indra Jegel), Bule (Bryan Domani), dan Bewok (Rigen Rakelna). Kita akan berterima kasih pula kepada mereka karena selain memiliki sense drama yang amat kuat, film ini juga sanggup memberikan humor yang meledak berkat penampilan yang khas pula chemistry apik dari mereka sepanjang film. Dengan durasi total 145 menit, alur film berjalan dengan mulus dan detail memaparkan problem dan dinamika yang dimiliki karakternya, bahkan terlalu detail sampai mengulik juga ke kehidupan personal anggota napi sel tujuh berikut konflik mereka dengan tahanan lain. Fillm ini juga masih memasukkan karakter kepala sipir yang di film ini bernama Hendro dan diperankan Denny Sumargo dengan eksplorasi lebih dalam terkait kehidupan pribadi dan karakternya yang nanti akan terhubung sebagai bentuk sikap kepada Dodo. 

Penampilan akting amat berperan dalam penyampaian visi film ini. Vino harusnya akan kembali masuk daftar nominasi penghargaan film untuk perannya sebagai Dodo Rozak. Sangat detail dan amat konsisten dengan gestur dan gaya bicara dari awal hingga di adegan pamungkas yang pasti akan banyak diingat oleh penonton. Graciella Abigail dan Mawar De Jongh pun sanggup memberi rasa haru dan dramatik sesuai porsi peran mereka. Juga tangisan Denny Sumargo di babak akhir adalah bukti progres karakternya yang diberi ruang cukup oleh cerita.

Namun juga dengan durasi yang panjang, film ini jadi memberikan beberapa informasi yang kurang relevan dengan tema utama, seperti yang telah dibahas sebelumnya terkait konflik antar tahanan berikut dengan kehidupan personal mereka. Dan satu yang makin jadi pertanyaan adalah motif dan keputusan ayah Melati selaku karakter antagonis. Jika di versi Korea, film memaparkan dengan jelas konflik antara dua ayah yang menyebabkan salah satu dari mereka berlaku bengis. Tapi disini, walaupun masih dengan penggambaran peristiwa yang serupa dan hanya memindahkan latar namun kebengisan Willy dan melihat bagaimana awal Dodo berkonflik dengannya adalah bentuk karakter yang memang sudah diset untuk tampil sebagai orang jahat. Dengan statusnya sebagai ketua partai nasional, tidak heran bila film mengaitkannya dengan konflik cerita apabila melihat realita yang ada di sosial kita.

Tema cerita yang dramatis didukung dengan sisi teknis yang tampil besar dan megah terutama tata musik yang khas sekali dengan film-film drama besutan Hanung Bramantyo sebelumnya. Pengadegan yang mendayu diisi akting cemerlang pemain ditambah gubahan musik yang sesuai, jadilah beberapa momen sukses menyentil hati dan mata seperti adegan di persidangan dan di babak awal ketika Dodo menceritakan kisahnya dengan almarhumah istri, yang menjadi pembeda film ini dengan versi original, Miracle in Cell No.7 sampai tulisan ini dibuat, sukses melekat di hati banyak penonton berkat banyaknya komentar positif yang bertebaran, apalagi disokong dengan materi yang kuat dengan pesan dan tensi mengharu biru. Walaupun sebagian cerita bisa lebih dipangkas untuk efisiensi alur, namun rohnya masih tetap sama dengan versi original, yaitu tentang ketulusan cinta antara ayah dan anak, kebersamaan keluarga baru serta sentilan terhadap proses hukum dan orang-orang dibaliknya yang masih 'payah' dengan orang-orang tinggi penuh kepentingan. 


9/10











Share This :

0 comments