-->
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

Review Film Aku Tahu Kapan Kamu Mati: Desa Bunuh Diri

Sunday, October 1, 2023

 

Sekuel dari Aku Tahu Kapan Kamu Mati dengan tone yang lebih berat dan gelap, membawa isu mental health dengan horor yang lebih berdarah.


Film horor masih jadi favorit di kalangan penonton lokal, that's why setiap bulan genre ini pasti ada, bahkan dalam hitungan minggu seperti di September ini. Isu bunuh diri juga jadi hal yang makin serius dan penting di era sekarang dengan makin kompleksnya hubungan sosial manusia terhadap diri sendiri dan lingkungan. Dua hal tadi, yang jadi favorit dan isu penting di masyarakat dileburkan oleh film dengan judul cukup ganas; Aku Tahu Kapan Kamu Mati: Desa Bunuh Diri.

Premisnya, Siena (Natasha Wilona) yang di film pertama sudah punya bakat istimewa melihat tanda kematian, justru kehilangan kemampuannya itu di film kedua ini. Berawal saat kejadian misterius yang terjadi di kampus Siena yang menewaskan seseorang yang ternyata berhubungan erat dengan Naya (Acha Septriasa), dosen dan psikiater yang menjadi jadi temannya bercerita. Kejadian itu membuat Siena yang ditemani kedua sahabatnya, Rio (Giulio Parengkuan) dan Windy (Marsha Aruan) menyusul Naya ke Desa Remetuk yang penuh misteri soal bunuh diri, di tanah penuh kesuburan dengan dengan hasil panen yang baik berupa nasi pulen.

Secara konsep, film ini jauh lebih berbobot dari film pertama yang berlatar SMA dan kehidupan remaja Siena. Tone di film kedua lebih serius dan kelam, seiring karakter Siena yang terus menjalani hidup dengan bakatnya yang tidak menyenangkan sampai membuatnya perlu obat-obat penenang, tapi masalah justru datang juga saat ia nggak bisa lagi melihat tanda kematian, terutama ketika sampai di desa Remetuk yang tanahnya amat subur tapi penuh dengan kematian ganjil.

Desa Bunuh Diri sayangnya masih cukup berantakan dengan konsep yang ia bangun sendiri. Isu utama soal mental health memang diletakkan di beberapa poin dan karakter, namun penggabungannya dengan elemen horor klasik soal desa terkutuk membuat kematian dan teror yang dialami oleh tiap orang menjadi tidak jelas. Apakah murni karena dorongan mereka untuk bunuh diri yang makin mempemudah si mahluk melancarkan aksi atau itu murni taktik langsung dari si orang-orangan sawah untuk menghabisi mangsanya.


Sekuel dari Aku Tahu Kapan Kamu Mati dengan tone yang lebih berat dan gelap, membawa isu mental health dengan horor yang lebih berdarah.


Namun menurutku, selain ceritanya yang lebih berkonsep, Desa Bunuh Diri juga makin bertaji dari segi horornya yang penuh darah. dan gory. Anggy Umbara memaksimalkan departemen teknis seperti tata suara, tata rias, dan artistik untuk menangkap teror yang creepy terutama dari sosok orang-orangan sawah yang cukup kreatif. Beberapa jumpscare yang diletakkan di beberapa titik berhasil mencapai misi dengan setor muka si sosok yang menyeramkan dan aksinya yang beringas.

Apalagi ATKKM 2 makin mantap dari segi line up castnya. Kelima orang yang nampang di poster punya porsi masing-masing dengan berimbang, dan cukup menguatkan sisi drama soal mental heath dan bunuh diri. Walaupun lagi-lagi penceritaan ini bisa lebih maksimal dan dikulik karena film masih tetap berpakem pada horor umum soal penelusuran misteri dan asal usul kutukan yang  akan menjadi pertanyaan besar terkait relevansinya dengan tema yang dibawa.

Selain itu, walaupun sudah dipenuhi cast cemerlang seperti Acha Septriasa, Ratu Felisha dan tentu saja Natasha Wilona, aksi yang dilakukan mereka tampak minim dan hanya bergantung pada bagaimana teror berjalan. Skrip garapan Lela Laila awalnya memberi sentuhan yang menjanjikan kala Siena pindah bersama yang lain ke Desa Remetuk, dan bagaimana suasana desa yang ditampilkan penuh kebahagian namun kematian berlangsung terus menerus. Konflik Naya dengan Laras (Ratu Felisha) dan desa mereka, pertentangan batin Naya sebagai ilmuwan dengan kondisi kampungnya, dan gejolak batin Siena, akhirnya hanya menjadi gerbang pembuka untuk pengungkapan misteri Desa Remetuk. 

ATKKM 2 minimal sudah mengemban tugasnya dengan baik untuk menjadi sekuel yang lebih bertenaga dengan konsep dan alur cerita yang lebih jelas. Sajian teror yang makin disesuaikan dengan taste Anggy Umbara yang liar dan berdarah. Mencoba untuk melebur isu kesehatan mental dengan horor sebenarnya sudah jadi poin menarik, tapi bagaimana cerita horornya dieksekusi dan pengungkapan misteri soal desa bunuh diri membuatnya jadi tidak jauh beda dengan horor sejenis, dan sayangnya justru mengaburkan esensi soal isu yang dibawa, sehingga tidak ada kedalaman pada hubungan antar karakter dan masing-masing dari mereka. Untungnya sebagai film horor, teknis yang dipunya Desa Bunuh Diri sudah amat memadai dan sukses bikin ngilu, dan tampilan hantu orang-orangan sawah yang sukses bikin bergidik.


8.0/10





Share This :

0 comments