-->
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

Review BARBENHEIMER (Barbie & Oppenheimer) : Hype Besar Lunas Terbayar!

Sunday, July 23, 2023

Ulasan singkat untuk film yang lagi hype saat ini. Barbie karya Greta Gerwig dan Oppenheimer yang disutradarai Christopher Nolan. Oscar qualified!!!



Barbenheimer jadi istilah top beberapa minggu terakhir. Buat yang belum tau, istilah itu adalah gabungan dua judul film besar hollywood yang saat ini masih tayang dan hypenya amat gede; Barbie dan Oppenheimer.

Kenapa gaungnya bisa sedemikian besar sampai buat kondisi bioskop begitu sesak penonton dan tayangan film? Fenomena Barbenheimer memang unik untuk perilisan film hollywood big potential yang jarang banget terjadi rilis di hari yang sama, pun bagaimana tim marketing kedua film khususnya Barbie yang menggila membuat banyak hal di dunia nyata dan maya jadi serba pink bikin keramaian tersendiri buat netizen.

Hype yang begitu besar untuk Barbenheimer terjawab pada perilisan kedua filmnya sejak 19 Juli lalu di Indonesia, dan hasilnya buat saya sendiri sangat memuaskan. Barbie dan Oppenheimer mampu berdiri sendiri dengan keontetikannya dalam bertutur dan memamerkan visual apik kreasi dari kedua sutradara; Greta Gerwig dan Christopher Nolan. Here's my point of view:


Barbie

Ulasan singkat untuk film yang lagi hype saat ini. Barbie karya Greta Gerwig dan Oppenheimer yang disutradarai Christopher Nolan. Oscar qualified!!!

Judulnya memang cuma 'Barbie', tapi di poster dan cuplikan materi promosi lain, yang disorot bukan cuma Barbie Stereotipikal (Margot Robbie) yang berambut panjang dan pirang, badan langsing, dan kaki yang selalu jinjit. Film secara keseluruhan menyorot dunia Barbieland dimana para Barbie lebih mendominasi dunia, sedangkan Ken (Ryan Gosling) dan Ken yang lainnya adalah penggembira. Sebuah penggambaran dunia 'terbalik' dimana 'Ken' tampak minor dan 'Barbie' jadi penguasa.

Barbie yang sehari-harinya merasa hidup sempurna, penuh keceriaan dengan dunia sarat warna pink, memulai dan menutup hari dengan riang tiba-tiba di suatu waktu menanyakan soal kematian. Si Barbie Stereotipikal ini kemudian berusaha mencari jawaban atas kegamangannya dengan pergi ke dunia manusia ditemani Ken. Barbie pikir dunia manusia bakal ramah karena berhasil nyiptain boneka Barbie dan menginfluence banyak orang termasuk para perempuan. Ternyata yang dia temui di dunia justru sikap sinis dan kenyataan kalau posisi perempuan tidak sesuperior di Barbieland.

Film Barbie disutradarai oleh Greta Gerwig (Lady Bird, Little Women) sekaligus nulis skenarionya bareng Noah Baumbach (Marriage Story), ketiga film tersebut adalah film kualitas kelas Oscar, makanya selain marketing yang jor-joran, Barbie bisa begitu hype juga karena keterlibatan mereka berdua. Para cinefreak riang gembira menyambut, penonton umum juga ikut penasaran karena IP (Intellectual Property) yang udah gede sejak dulu.


Ulasan singkat untuk film yang lagi hype saat ini. Barbie karya Greta Gerwig dan Oppenheimer yang disutradarai Christopher Nolan. Oscar qualified!!!



Hasilnya, film yang dimulai dengan fun dan penuh warna semakin ngasih liat tajinya kala Barbie bertualang di negeri manusia buat nemuin 'majikannya', melihat dirinya sebagai subjek dan objek, dan gimana dunia manusia dengan Barbieland bisa terhubung dengan kuat . Yes, film ini ternyata punya bahasan amat dalam soal eksistensi manusia, feminism, patriarki, bahkan toxic masculinity dan hal-hal filosofis terkait manusia dan kehidupan. Tapiiii bukannya dikemas dengan tuturan berat, film ini justru mampu ngebawa alurnya dengan ngalir dikemas oleh visual dan dialog-dialog ringan tapi berbobot, ditambah Margot Robbie yang bermain luarrr biasa emosional, cantik, riang, sesuai kebutuhan peran.

Karena yang nulis Greta dan Noah, film Barbie mau berimbang dengan ngggak cuma merongrong soal eksistensi perempuan di filmnya. Ken yang di Barbieland tampak cuma jadi peran sampingan buat Barbie, justru berasa nemuin jati dirinya saat bertualangan ke dunia nyata. Dia lihat gimana laki-laki begitu mentereng dengan berbagai profesi, bahkan jadi figur yang ada di uang kertas. Padahal diceritakan Barbie dan Ken tidak punya jenis kelamin, tapi selayaknya boneka barbie sebelum ke tangan pemilik, mereka dikotakkan, dijadikan objek oleh sang pembuat. Korelasinya dengan dunia manusia tempat mereka bertualang, film ini punya pesan kuat bagaimana peran laki-laki dan perempuan seharusnya bisa imbang, tiap orang bisa jadi subjek buat diri mereka sendiri dan punya pilihan.

Punya alur cerita rapi dan bahasan yang kuat, desain produksi gila-gilaan yang artsy, detail dan sangat mendukung mode 'khayalan', punya sederet pemain ternama selain Margot dan Gosling di jajaran pendukung, musikal dan dance perform yang bikin joged, dan lagi-lagi marketing yang gila-gilaan. Lunas!!!


9,5/10


Oppenheimer

Ulasan singkat untuk film yang lagi hype saat ini. Barbie karya Greta Gerwig dan Oppenheimer yang disutradarai Christopher Nolan. Oscar qualified!!!

Saya bukan sinefil kelas kakap seperti banyak orang diluar sana yang mengikuti setiap jejak karya Christopher Nolan. Ketertarikan untuk nonton film ini murni karena apa yang dijualnya sebagai biografi dari dalang dibalik kehancuran dan perubahan dunia saat World War II. Oppenheimer melucuti babak hidup J. Robert Oppenheimer, yang dikenal sebagai 'Bapak Bom Atom' berkat mahakaryanya sebagai bagian dari Project Manhattan sehingga kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang jadi lautan korban jiwa pada tahun 1945 silam.

Kalau Barbie mewakili sisi feminis, Oppenheimer ditengarai lebih 'laki-laki', makanya fenomena Barbenheimer bisa gede hypenya karena mewakili dua sisi itu, dan disini, nama Nolan, cerita yang dibawa dan jualan teknisnya jadi faktor kunci. Tapi memang benar bahwa sepanjang durasi 180 menitnya, Oppenheimer yang diperankan Cillian Murphy sebagai fisikawan asal US dikeliling oleh para pria ragam profesi dan berjabatan tinggi, Gejolak diri Oppie sebagai ilmuwan yang akhirnya nanti harus membenturkan kapasitas keilmuwannya dengan politik negara, hubungan personalnya dengan keluarga, istri, 'wanita spesial', dan segelintir orang yang siliih berganti masuk dan keluar di separuh awal durasi, menyebabkan alur Oppenheimer memaksa untuk konsentrasi penuh supaya bisa menghubungkan mereka semua dengan cerita. Lumayan berat bray 😅

Saya tidak bisa menjelaskan lebih detail, karena bahkan nontonin orang-orang pintar ngomong hal-hal berkaitan dengan sejarah dan keilmuan, saya merasa kecil haha, namun secara garis besar film yang beralur non linier dan punya POV dengan pembeda visual warna dan BW (Black & White) ini menjabarkan dengan maksimal sosok Oppenheimer sejak awal karirnya. Sisi warna menampilkan dari sisi Oppie dengan segala pikiran dan gejolak batinnya, dan sisi Black & White lebih banyak memperlihatkan bagaimana Oppenheimer disidang sebagai objek, dalam hal ini oleh rekannya Strauss (Robert Downey Jr.).


Ulasan singkat untuk film yang lagi hype saat ini. Barbie karya Greta Gerwig dan Oppenheimer yang disutradarai Christopher Nolan. Oscar qualified!!!



Film ini akan memberatkan bagi sebagian orang terutama yang tidak terbiasa dengan tuturan nyaris diisi obrolan persidangan, politik, dan penuh istilah-istilah fisika dalam pembuatan bom. Tapi harus diakui, film ini sekali lagi jadi masterpiece yang dipersembahkan dari Christopher Nolan. Saya tidak pernah dan harus seobjektif ini dengan film yang buat saya mampu duduk anteng menontonnya selama 3 jam penuh, karena visi  dan misiNolan yang begitu besar  dalam mempersembahkan karya biografi tokoh yang berpengaruh besar. Pemakaian mode cerita yang demikian sudah tentu untuk lebih menguatkan narasi dan bangunan dunia film yang sarat benturan kepentingan ilmuwan dengan politik dalam skala dunia.

Babak ketiganya mampu lebih menarik atensi saat akhirnya rakitan bom atom mulai diuji coba dan akhirnya digunakan. Dilema Oppie makin tersulut saat prinsip moralnya diuji, dan awas aja kalau Cillian Murphy sampai gak ada di list nominasi berkat perannya ini, karena beliau sangat paten jadi sosok bapak bom atom dengan permainan gestur yang bisa kita lihat dengan jelas berkat kamera yang sering makai mode close up. Persidangan dengan saksi yang datang silih berganti, hubungan dengan keluarga dan rekan-rekannya di Project Manhattan sampai apresiasi 'bermata dua' dari Presiden US kala itu yang membuat Oppenheimer makin dikenal dunia. 

Tak lupa sepanjang film, suguhan visual dan teknis yang diberikan sangat bombastis. Selain sequence bom yang TANPA CGI itu, sound dan scoringnya sangatlah mantap. Ketika visual semacam dan soundnya keluar, saya merasa seperti ada di momen saat pesawat take off. Boleh jadi ini sensasi sampai segitunya yang saya dapat selama riwayat perbioskopan. Bergetarnya sampai masuk jantung. Bukan kaleng-kaleng film ini. Kalau di kota kalian ada layar IMAX harus dimaksimalkan dengan nonton di tempat seharusnya untuk sensasi menggila. Oppenheimer, Lunas!!!


9.5/10
Share This :

0 comments