Diceritakan Tara Johandi (Pevita Pearce) ditemukan dalam peti tertutup dengan kondisi fisik dan mental yang terguncang bersamaan dengan ditemukannya kedua orang tua angkat Tara yang menjadi korban pembantaian. Kenapa cerita ini menciptakan skenario demikian (read: peti tertutup) dan mengaitkan dengan judulnya, kita akan mengetahui selepas menyelesaikan series delapan episode yang tersedia di layanan aplikasi Vidio ini.
Disutradarai oleh Randolph Zaini, yang dikenal melalui debut film panjangnya, Preman (2021), Katarsis yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Anastasia Aemelia bisa dibilang berada pada jajaran series Indonesia terbaik dalam beberapa tahun terakhir dengan kemasannya yang unik, nyeleneh sekaligus disturbing penuh darah sejalan dengan temanya yang mengangkat isu psikis manusia dengan trauma dan tekanan diiringi misteri pembuhan pelik.
Nantinya, Tara bertemu dengan orang-orang baru. Ada Ratna (Sigi Wimala), librarian sekaligus mentor di tempat Tara bekerja; Alfons (Bront Paralae), psikiater yang membantu Tara menangangi kasusnya selepas kejadian peti maut; dan Ello (Revaldo), laki-laki unik yang tertarik dengan Tara. Perjalanan Katarsis akan membawa kita lebih dalam pada perjalanan karakter Tara yang mencoba hidup kembali dengan kondisi yang bahkan ia tidak bisa mengekspresikan perasaannya sendiri karena trauma yang ia hadapi. Selain itu cerita membawa kita menelusuri misteri pelik pembunuhan peti maut yang mengaitkan dirinya.
Dalam pengemasannya, Katarsis memperhatikan betul sisi visual yang berhasil memanjakan mata, entah itu wardrobe yang menyesuaikan dengan karakter, ketelitian tim artistik dalam mengemas set yang banyak menerapkan two tone color, dan sinematografi yang menangkap gambar dengan pemaknaan dan metafora tertentu. Seperti pada kostum yang dipakai Tara. Awalnya ia sering memakai pakaian berwarna gelap, kemudian berganti ke motif bergaris dua warna, lanjut ke warna-warna cerah. Seiring proses berjalannya karakter Tara dalam bersosialiasi dengan orang-orang di sekitar, hal itu juga berpengaruh pada bagaimana ia merepresentasikan dirinya sendiri. Pevita Pearce sebagai Tara sudah pasti akan diincar untuk nominee aktris terbaik berkat perannya disini. Gejolak emosi Tara yang bisa tiba-tiba berubah dalam sekejap berhasil dibawakan Pevita dengan sangat total. Kita akan paham betul bagaimana gemelut dirinya yang penuh trauma dengan gestur dan sikap yang kaku tanpa ekspresi. Darisanalah muara judul Katarsis yang akan menjelaskan bagaimana Tara dan keseluruhan ceritanya nanti.
Tidak hanya Tara sebagai karakter titular, orang-orang di sekitarnya juga diberikan penokohan yang kuat dan hidup sesuai yang diemban masing-masing. Ratna dan Alfons yang seperti orang tua baru bagi Tara. Sigi Wimala memberikan penampilan sempurna untuk comebacknya kali ini. Ratna ia bawakan dengan charming, fun dan wise cocok menjadi mentor bagi Tara. Ello yang mendekati Tara karena menurutnya ia adalah pendamping yang tepat untuk menjalankan 'misi'nya, secara gemilang dibawakan oleh Revaldo. Tampilannya cenderung cerah dan ekspresif dari luar, tapi kondisinya tidak jauh beda dengan Tara yang penuh pressure. Maka tandem Tara dan Ello menjadi amat menarik melalui interaksi mereka, seperti adegan dansa yang aneh itu. Ada pula detektif Jenny (Prisia Nasution) dan Heru (Slamet Rahardjo), dua aktor beda generasi pemenang Piala Citra yang mengidupkan peran masing-masing juga dengan sangat total.
Selain eksekusi soal kesehatan mental yang digarap dengan dialog dan momen dari karakter yang terdeliver denngan baik, babak thrillernya pun sanggup membuat ngilu. Randolph Zaini memaksimalkan source cerita yang ia punya dengan menuangkan keliaran kreasi membungkus adegan slasher penuh darah bertubi-tubi. Rating 21+ sebagai tanda untuk sebatan dan potongan tubuh manusia yang secara gambllang ditampilkan bersumber dari kebengisan orang-orang di film ini. Bagusnya lagi, Katarsis cukup solid memaparkan sisi karakternya, sama-sama punya sisi hitam dan putih, bahkan mungkin diantara keduanya. Sebab-akibat yang jelas untuk memberi nyawa pada masing-masing karakter.
Katarsis berhasil menjaga fokus cerita dengan tetap berpegang pada isu utamanya, walaupun tetap ada beberapa bagian kurang diperdalam lagi dan bisa saja dihilangkan seperti background Jenny sebagai istri dalam keluarga dan skandal yang secara sadar ia lakukan, juga motif Heru yang nantinya kita akan tahu bahwa ia adalah karakter 'besar' untuk cerita, Setelah lika-liku perjalanan yang kompleks namun menyenangkan, Katarsis justru menutup cerita dengan sedikit menguap, walaupun keputusan itu bisa saja sengaja dibuat untuk memberi penonton kebebasan berinterpretasi oleh penonton pada akhir cerita.
Tema yang penting dengan directing maksimal sarat visi; konsep yang unik, penuh warna sekaligus penuh darah; sisi teknis yang memukau, well prepared dan detail; cast bertabur bintang dan total menghidupkan perannya, alur cerita yang rapih, Katarsis jelas adalah series Indonesia terbaik di tahun ini. Isu tentang mental health yang semakin jadi perhatian di generasi sekarang dengan kompleksitas sosial masa kini. Cerita tentang Tara yang mencoba kembali menemukan dirinya untuk lepas dari trauma dan dinamika hubungannya dengan kedua orang tua angkat, Jenny, Heru, Alfons dan Ratna sebagai mentor, serta Ello si 'teman baru' Tara. Kelak jika peti yang tertutup itu terbuka, setelahnya hanya kita yang tahu dan sadar akan jawabannya.
9,0/10
Share This :


0 comments