-->
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

Review Film Dear David & Para Betina Pengikut Iblis

Sunday, February 19, 2023

 

Dua film Indonesia terbaru yang dapat ditonton via Netflix dan di bioskop. Masing-masing membawa cerita dan genre berbeda dengan satu kesamaan; nafsu.


Perlu waktu dan pemikiran lebih supaya kalimat ini bisa jadi permulaan dari dua film yang akan dibahas ini, terutama untuk film Dear David yang sudah ditonton sehai setelah rilis. Entah apa yang salah dan bagaimana bisa, mengakui kalau saya bisa enjoy menikmati kedua film ini sempat bikin khawatir untuk berkomentar di publik. Tapi tidak lagi mulai sekarang, mengingat film adalah karya seni yang bisa diresepsi berbeda oleh penontonnya, Dear David dan Para Betina Pengikut Iblis setidaknya masih memenuhi ekspektasi saya, meskipun tetap ada beberapa catatan di masing-masing film tersebut. Dua film yang secara genre dan cerita amat berbeda tapi memiliki satu kesamaan, yaitu mengangkat sisi nafsu karakter sebagai penggerak cerita.

1. Dear David

Dua film Indonesia terbaru yang dapat ditonton via Netflix dan di bioskop. Masing-masing membawa cerita dan genre berbeda dengan satu kesamaan; nafsu.

Karya terbaru sutradara Lucky Kuswandi yang menjadi pembuka untuk rilisan konten lokal di platform Netflix. Premisnya menarik, yang menceritakan Laras (Shenina Cinnamon), siswa berpretasi dan ketua OSIS di sekolah harus menghadapi situasi pelik lantaran tulisan-tulisan fantasinya yang ia buat dan unggah di internet tentang David (Emir Mahira), teman sekolah yang ia taksir tersebar ke satu sekolah, bahkan di media sosial dan lingkungan kehidupan Laras.

Untuk film Indonesia dengan cerita dan karakter remaja, Dear David cukup berani dan lugas dengan isu yang diangkat. Jarang sekali kita mendapat karakter perempuan remaja dalam satu film yang isu percintaannya banyak diisi unsur sensual dan voyeurism. Durasi 120 menit diisi dengan lika-liku kehidupan Laras sebagai siswa, anak dari seorang single mom, dan sebagai dirinya sendiri. Dear David juga menonjolkan Indonesia yang khas dengan kultur agama yang banyak diikutsertakan dalam narasi bahkan menjadi motivasi karakter dengan nilai kebajikan Kristiani.

Namun Dear David mengalami penurunan tensi di babak kedua. Setelah akhirnya kedok Laras tersebar, film membawa alurnya deep into sisi personal tiga karakter beserta hubungan mereka satu sama lain, yaitu Laras, David, dan Dilla (Caitlin North Lewis). Memang disini akan lebih diungkap bagaimana kehidupan mereka bertiga secara personal dan sebagai kerabat, serta problem masing-masing dengan orang tua dan sekolah. Hanya saja dengan babak awal yang dibangun intens dan bergairah, terasa sekali cerita yang mengulur lama di pertengahan.

Dear David akhirnya kembali sengit di babak akhir. Menutup kisahnya dengan poin penting soal aktulisasi diri sebagai remaja, dan berisi sentilan terhadap institusi sekolah yang juga banyak disorot sepanjang film. Selain itu, masalah privasi dan hak keamanan di dunia maya juga nilai yang dapat diambil. Film dengan karakter remaja, yang meskipun keputusan dan tingkah lakunya cenderung ceroboh seperti komentar netizen, saya pikir merupakan hal yang wajar untuk memperlihatkan progesi karakternya. Tema dan premis cenderung serius namun Lucky Kuswandi menggulirkan dengan pop dan joyful khas dunia remaja. Itu juga disokong oleh sinematografi dan gambar-gambar cantik serta pemilihan musik dan lagu pengiring yang pas dengan cerita, yang jadi salah satu keunggulan Palari Films sebagai rumah produksi sejak film pertama, Posesif (2017).


8.0/10


2. Para Betina Pengikut Iblis

Dua film Indonesia terbaru yang dapat ditonton via Netflix dan di bioskop. Masing-masing membawa cerita dan genre berbeda dengan satu kesamaan; nafsu.


Awalnya hanya satu faktor yang membuat saya tertarik untuk menyaksikan film ini di bioskop, yaitu transformasi Hanggini sebagai salah satu pemain yang berbeda dari karakter yang pernah ia emban sebelumnya di film-film drama, Disini ia sebagai Sari menjadi salah satu 'betina' bersama Sumi (Mawar de Jongh) dan Asih (Sara Fajira). Embel-embel lulus sensor 21+ yang dipromo sebelum filmnya tayang makin memantapkan niat untuk langsung terjun sebagai penonton hari pertama. Film yang terinspirasi dari tiga ayat dalam Al-Qur'an ini mengisahkan tiga perempuan yang mengikuti hawa nafsu mereka untuk bersekutu dengan Iblis (Adipati Dolken) dengan masing-masing tujuan.

Premis yang simpel, namun dalam pengembangannya tidak sesederhana itu. Film ini sayangnya memiliki penceritaan yang berantakan dengan editing kasar yang bahkan terasa sejak film dimulai. Di beberapa bagian, tidak ada penjelasan logis tentang bagaimana konflik di satu karakter dapat terjadi. Hanya Sumi yang mendapat porsi penceritaan dan latar belakang yang cukup dominan. Siapa Sari dan bagaimana awal karakter ini hadir juga dimunculkan secara tiba-tiba, begitupun dengan Asih yang hanya muncul di beberapa scene dan diekspos secara buru-buru di paruh akhir untuk menguatkan hubungan antar 'betina'.

Tidak ada penjelasan pula terkait latar waktu dan cerita, pun siapa si Iblis itu masih belum jelas siapa dan bagaimana ia dalam cerita. Apakah murni hanya sebagai Iblis atau (nantinya) akan dimunculkan sebagai sosok dengan motif kuat. Setidaknya masih ada elemen yang bisa menjaga perhatian untuk tetap duduk menikmati film sampai selesai. Menilik promosinya terkait sensor 21+, yang jarang didapat untuk film lokal di bioskop, Para Betina Pengikut Iblis cukup total menjawab rasa penasaran dengan banyaknya adegan gory dan menjijikkan berupa tumpahan darah, sebatan parang, tusukan pisau, ceceran organ bahkan secara eksplisit menampilkan pemotongan lidah dan leher. Saya juga amat terkesan dengan penampilan Mawar dan Hanggini yang keluar dari trope karakter drama dengan ekspresi horror yang mengerikan namun terjaga. Andai saja film ini bisa mengakomodir penceritaannya dengan baik, karena saya sendiri cukup paham dengan inti yang ingin disampaikan oleh pembuatnya. Bisa mendapat itu dan ekpektasi terpenuhi walaupun sedikit, i had enough.


7,5/10

Share This :

0 comments