Pertama kali tahu kata Mangkujiwo bukan di film ini, atau film pertamanya yang rilis tiga tahun lalu. Trilogi Kuntilanak era 2000an yang sukses pada masanya itu yang lebih dulu mengenalkan kita pada sosok ikonik hantu Kuntilanak dan hal-hal turunannya macam lagu Lingsir Wengi dan Sekte Mangkujiwo. MVP Pictures selaku rumah produksi tampak makin serius membangun semesta Kuntilanak Universe dengan dua judul Mangkujiwo dan trilogi Kuntilanak versi baru yang rilis versi ketiga tahun lalu, dan rencana untuk membuat cerita tidak selesai di Mangkujiwo 2.
Melanjutkan kisah Broteseno (Sujiwo Tejo) setelah berhasil melumpuhkan Cokrokusumo (Roy Marten) dengan menggunakan Uma (Yasamin Jasem), anak dari Cokrokusumo dan Kanti (Asmara Abigail) sebagai pion, kali ini Mangkujiwo 2 lebih mengeksplor bagaimana kejayaan sekte itu di tengah sosial . Batik Mangkujiwo adalah salah satu bisnis yang bisa dibilang sebagai dalih untuk menutupi aktivitas mereka sebenarnya, yang berurusan dengan kekerasan, perampasan, dan mistis. Dibantu oleh Nyi Kenanga (Djenar Maesa Ayu) dan Karmila (Karina Suwandi), Brotoseno dalam Mangkujiwo 2 makin menunjukkan martabatnya yang penuh intrik dan konflik politik dengan melibatkan tokoh-tokoh baru dan fokus cerita baru, sambil menelusuri sisi Uma yang terus mencari identitas diri.
Sepanjang perjalanan Mangkujiwo 2, plot dan cerita yang tersaji mengingatkan pada Kuntilanak 2 versi Julie Estelle, yang sama-sama menceritakan kejayaan sekte dan penelusuran jati diri si tokoh perempuan utama. Gaya teror yang dibawa juga serupa, penuh darah dan kesadisan, meskipun di seri Mangkujiwo sudah dipakai sejak film pertama. Azhar Kinoi Lubis selaku sutradara dibantu skenario dari Dirmawan Hatta mempertahankan gaya bertutur seperti sebelumnya, namun yang menjadi pembeda di film kedua ini lebih bertutur dengan banyak dialog antar tokoh yang cenderung rumit dalam menarasikan kejadian dan bangunan dunia Mangkujiwo.
Sekitar satu jam pertama, kita diajak dulu untuk menikmati banyak guliran dialog yang cenderung politis dan penuh intrik untuk menunjukkan kekuasaan dan kejayaan masing-masing orang atau kelompok. yang berasal dari keluarga Mangkujiwo dan para karakter baru seperti Rimba (Marthino Lio), Amperawan (Kiki Narendra), Maurine (Widika Sidmore), dan Dargo (Yayu Unru). Obrolan yang cenderung berat nan rumit terutama bila tidak memiliki pengetahuan sama sekali dasar cerita film pertama, meskipun menuju babak akhir poin-poin cerita yang sebelumnya tersebar bisa saling terhubung. Bahkan dengan sedikit kecerdikan pula, Mangkujiwo 2 memberi kejutan berupa cameo dua sosok penting dari dua generasi trilogi Kuntilanak (2000an dan versi anak-anak). Semakin memperlihatkan mantapnya niat rumah produksi dalam membangun semesta Kuntilanak ini.
Karena lebih menonjolkan unsur cerita dan dialog, bagian teror dan sosok Kuntilanak jadi minim penampilan, padahal sosok Kuntilanak Merah di film ini tidak kalah seram dengan kakak-kakaknya di semesta yang sama. Pemandangan mengganggu tetap diperlihatkan dengan pasukan tikus lebih banyak ditambah bangkai, darah dan daging tikus dicampur sebagai lauk nasi yang tidak akan nyaman untuk banyak orang. Mangkujiwo 2 adalah cerita tentang bengisnya manusia dalam kekuasaan dan kejayaan di era orde baru dari petinggi dan orang-orang penting yang dipayungi unsur budaya kedaerahan dan mistis. Azhar beserta timnya menambah unsur kesadisan dengan adegan brutal macam leher dipenggal yang tersaji meyakinkan berkat teknis memadai.
Latar belakang 70an berhasil dibangun dengan baik berkat dukungan teknis dari departemen terkait, salah satunya kostum yang digunakan Maurine yang sangat cocok dengan karakternya sebagai bintang film tenama saat itu, sayangnya karakter ini akan mudah dilupakan akibat penceritaan, padahal aura Widika Sidmore sudah pas untuk cerita horor seperti Mangkujiwo, sama seperti saat ia berperan di Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2. Selain dukungan teknis, skenario juga masih memfasilitasi penggunaan bahasa sesuai era tersebut, yang lagi-lagi membuat guliran cerita Mangkujiwo 2 tampil rumit dan kurang mendukung untuk yang mencari horor dan teror intens tiap babak.
Tapi saya masih siap untuk menunggu bagaimana kisah Mangkujiwo akan dilanjutkan. Pihak MVP sampai membuat pusat studi khusus untuk pembangunan Kuntilanak Universe dengan adanya tim research dan brainstorming cerita, Ini penting sebab kisah Mangkujiwo 2 sukses ditutup dengan brutal dan menggila serta makin memunculkan hint baru untuk cerita yang lebih besar. Ditambah adanya dua cameo dari dua generasi film Kuntilanak dan masih belum ada titik terang kaitan antara Mangkujwo versi baru dengan sejarah dunia Mangkujiwo versi Kuntilanak 3 tahun 2008 yang sudah di revealed dengan jelas. Apa mungkin akan terjawab oleh Samantha yang masih bisa menggapai batu diatasnya?
8.0/10
Share This :


0 comments