-->
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

Review Film Inang

Sunday, October 30, 2022

inang adalah sajian horror lokal yang beda karena bergaya ala non mainstream namun tetap memiliki cerita yang kuat dan solid.


Ada berbagai jenis sub genre dalam film horror. Inang menjadi salah satu suguhan horror lokal yang berbeda dibanding teman-temannya. Membawa cerita tentang kultur yang mengandung unsur mistik, Inang menghadirkan sajian yang menimbulkan rasa tidak nyaman berkat pengadeganan atmosferik dan cerita yang mengarah pada ranah misteri.

Berkisah tentang Wulan (Naysilla Mirdad) karyawati supermarket yang dihamili pacarnya, namun pacar Wulan justru acuh dan tidak mau bertanggung jawab. Wulan yang tidak ingin mengaborsi anaknya, menemukan grup support ibu hamil di Facebook yang mengantarkannya pada pasangan suami istri, Agus (Rukman Rosadi) dan Eva (Lydia Kandou) yang bersedia untuk menjadi orang tua asuh anak Wulan.

Kebaikan dan keramahan Agus dan Eva membuat Wulan merasa nyaman, apalagi sejak diajak tinggal bersama mereka, Wulan menemukan kenyamanan yang tidak ia dapatkan saat masih hidup keras sendirian di sebuah rumah kontrakan kecil. Namun perlahan Wulan menyadari bahwa kenyamanan yang ia dapatkan berubah menjadi ketakutan saat gelagat Agus dan Eva makin mencurigakan dan Wulan bermimpi buruk akan suatu sosok yang terlihat memiliki hubungan dengan rumah yang ia tinggali saat itu.

Tidak bisa dipungkiri, Inang yang menjadi debut sutradara Fajar Nugros dalam menggarap horror ini memerlukan mood yang baik untuk bisa menikmati keseluruhan filmnya. Film yang bergerak slow burn ini mungkin akan berdampak jenuh bagi sebagian penonton, namun nyatanya Inang memiliki cerita dan alur yang solid, mulai dari perjuangan Wulan semasa hidupnya masih keras, fase ketika ia menjadi anak asuh sementara Agus dan Eva sampai ketika dimulainya babak horror dan misteri terkait apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana sesungguhnya bentuk kebaikan yang ditawarkan Agus dan Eva, apakah murni dan tulus atau ada maksud lain yang membahayakan.


inang adalah sajian horror lokal yang beda karena bergaya ala non mainstream namun teap memiliki cerita yang kuat dan solid.


Memilih Naysilla Mirdad sebagai pemeran utama adalah satu hal yang terasa istimewa di film Inang. Lebih dikenal sebagai pemain sinetron dengan peran protagonis yang khas, Naysilla mampu mengemban karakter Wulan yang kompleks dengan begitu baik. Kerasnya hidup Wulan yang ternyata sudah dialami sejak ia kecil menimbulkan trauma yang cukup mendalam, maka tak heran ia begitu nyaman saat pertama kali berada di rumah Agus dan Eva. Skenario karya Deo Mahameru juga memfasilitasi karakternya yang acap kali berkelakar "Anjing lo" saat mengalami sesuatu. Peran dan karakter yang sungguh berbeda. Tambah menarik lagi karena ia juga bermain dengan ibunya, Lydia Kandou yang adalah aktor senior tanah air. Keramahan dan kasih sayang yang tulus berhasil ditampilkannya sehingga tak heran Wulan dan sebagian penonton merasa terlena. Dipasangkan dengan Rukman Rosadi sebagai Agus, mereka berdua mampu menciptakan suasana nyaman- tidak nyaman setiap muncul di layar.

Jadi darimana unsur horror dalam Inang? Film ini mengangkat budaya Rebo Wekasan, sebuah ritual penolak bala yang dilakukan pada hari Rabu terakhir di bulan Safar pada kelander Islam, Skenario mengkorelasikan budaya tersebut ke dalam cerita yang mengaitkan dengan motif Agus dan Eva serta kehamilan Wulan yang sudah diincar sejak awal. Poin ini menjadi hal menarik yang dibahas oleh film, bahwa bagaimana adat dan budaya akan selalu ada dalam kehidupan sosial kita, karena itu adalah terkait kepercayaan setiap orang. Agus dan Eva tidak dipotret hanya dari satu sisi. Kasih sayang mereka kepada Wulan adalah cerminan diri mereka sebagai orang tua yang penuh cinta, termasuk kepada Bergas (Dimas Anggara) si anak semata wayang.

Kedatangan Bergas di pertengahan cerita rupanya semakin menguak misteri apa yang disimpan Agus dan Eva. Gelagat mereka semakin membuat tidak nyaman, dan posisi Wulan tentu saja semakin terhimpit dengan kandungan yang semakin membesar. Sejak fase kedatangan Bergas praktis menjadi momen untuk mengembangkan kisahnya dengan Agus dan Eva, Wulan sempat kehilangan momen di bagian ini namun tetap tidak mengecilkan perannya sebagai tokoh utama.  Kekuatan cerita yang dimiliki Inang makin terasa klop karena bagaimana film mengakhiri kisah Wulan dan unsur budaya Rebo Wekasan itu sendiri. Seperti disiratkan bahwa semaju apapun dunia saat ini, selama masih ada yang mempercayai suatu hal dari sudut manapun ia memahaminya, produk budaya itu akan selalu ada.

Minim penampakan dan jumpscare, Inang mengandalkan rasa tidak nyaman secara atmosferik yang dibantu oleh teknis dan performa para pemain. Memiliki skrip yang kuat dan solid, Inang memasukkan unsur sosial, budaya mistis, kekuatan perempuan, dan kasih sayang orang tua menjadi sajian horor ala non mainstream yang patut dicoba. Walaupun bertempo lambat, film ini masih memiliki beberapa momen gory yang dieksekusi dan tampil secara gambllang di layar. Sebuah film yang terasa spesial karena berani tampil beda dari horror lokal yang banyak edar belakangan ini.


9.5/10


 

Share This :

0 comments