Masih dua bulan pasca Ivanna, Kimo Stamboel yang dikenal sebagai sutradara horror dengan sentuhan gore dan slasher berdarah-darah kembali merilis karya baru, Jailangkung: Sandekala yang adalah reboot dari dua film Jailangkung (2017 dan 2018) karya Jose Poenomo dan Rizal Mantovani. Hasil produksi bersama Sky Films dengan CJ Entertainment yang dikenal sebagai rumah produksi untuk film-film top Korea Selatan jadi salah satu faktor yang memantapkan niat untuk nonton film ini. Tapi memang sebaiknya tidak berekspektasi film ini menganut treatment serupa karya Kimo sebelumnya, karena faktor cerita yang murni horror mistis dan batasan rating 13+. Namun sayang, secara keseluruhan terutama guliran kisahnya, Sandekala adalah penurunan untuk Kimo.
Menyematkan sub judul Sandekala, film ini mengangkat mitos terkait kepercayaan pergantian waktu sore ke malam sebagai waktu memulai ronda bagi para mahluk halus. Bercerita tentang satu keluarga kecil, Sandra (Titi Kamal) yang tengah hamil besar beserta suami, Adrian (Dwi Sasono) dan anak-anak mereka, Niki (Syifa Hadju) dan Kinan (Muzakki Ramdhan) melakukan family long trip yang salah satu tujuannya untuk merekatkan Sandra dan Niki yang tengah berkonflik. Memutuskan untuk menepi di sebuah danau, Kinan menghilang secara misterius tepat saat pergantian hari menuju malam. Dimulailah pencarian Kinan yang akhirnya membuka tabir satu persatu akan misteri lain yang terjadi di wilayah danau tersebut.
Premis yang simpel tadi dalam penjabarannya bergerak dengan alur yang cepat. Hanya selang 10 menit dari film dimulai, konflik utama sudah masuk ke layar. Sisa waktu film berdurasi 92 menit dihabiskan guna menelusuri penyebab hilangnya Kinan berikut misteri serupa yang ternyata terjadi tiap tahun dan berkaitan dengan sosok boneka Jailangkung. Inilah yang menjadi kekurangan Jailangkung: Sandekala, karena meskipun menawarkan sajian misteri yang konkrit dan terasa dekat karena terkait mitos yang pasti pernah hadir di sekitar kita, namun pergerakan alur dan cerita yang disuguhkan tidak memberikan sesuatu yang baru. Cerita hasil naskah garapan Kimo Stamboel dan Rinaldy Puspoyo ini cenderung generik seperti kebanyakan film horor setipe.
Tiga anggota keluarga yang tersisa tidak diberikan inner dan interaksi mendalam selama proses investigasi pencarian Kinan. Memang diceritakan Sandra dan Niki masih berkonflik sebelum kejadian, namun di satu waktu mereka bisa cepat kembali akrab dan di lain kesempatan cerita justru membuat mereka terpisah cukup lama untuk diberi panggung sendiri-sendiri. Adrian bersama dengan Majid (Mice Lucock), polisi detektif setempat yang masih terbilang wajar mengingat statusnya dan kondisi dimana mereka berada; Niki dengan Ical (Giulio Parengkuan), keponakan Majid yang biarpun tinggal di desa tapi fasih juga dengan pengucapan lo-gue; Dan Sandra di satu kesempatan datang seorang diri ke rumah Saijah, salah satu penghuni desa. Perpindahan alur kerap berpindah dengan cepat seiring misteri yang pelan-pelan mulai terungkap, dan lagi banyak momen terasa harus dituturkan secara gamblang khas dialog as script, persis seperti Ivanna yang juga film Kimo sebelum ini.
Namun dibalik kelemahan tadi, Jailangkung: Sandekala masih memiliki poin menarik. Terkait pembangunan set horrornya, danau dan hutan yang dipilih sebagai lokasi amat membantu menaikkan tensi cerita dan misteri yang disuguhkan. Selain boneka Jailangkung yang menjadi medium, sosok hantu juga dibuat meyakinkan untuk tampil seram dan...unik, seperti perpaduan kuntilanak dan genderuwo 😄 makin kagum dengan sosok hantunya saat diungkap dengan jelas di paruh akhir. Beberapa momen teror mampu membuat rasa tidak nyaman, dengan pergerakan kamera pelan dan minim suara agar memaksimalkan daya kejut. Kimo masih pula menyajikan momen hantu menyerang secara gesit meskipun minim kreatifitas, mungkin karena horor dengan cerita yang lebih jinak. Bermain dengan efek praktikal dan visual, merasa tidak sreg dengan CGI di film ini terutama di adegan kepala terbalik yang sudah muncul di teaser yang ternyata ketika ditonton filmya secara full, terlihat tidak mulus dan tampak sekali efek buatannya.
Cerita dan alur yang generik, sempat terbersit kekecewaan karena memasang ekspektasi cukup tinggi pada film yang awalnya berjudul Jailangkung 3 ini, setelah dua bulan lalu dipuaskan dengan Ivanna. Sampai di momen 15 menit terakhir saat riuh penonton dalam studio makin terasa karena Kimo kembali membawa satu peran baru sebagai pemicu komedi dan... kejutan di momen pamungkas. Kimo seolah ingin style khasnya tetap ada di film ini. Melibatkan Sandra dan Niki, serta satu karakter hasil reveal misteri, saya kembali percaya pengalaman sinematik yang tidak bisa digantikan oleh medium tontonan apapun saat mengalami momen bersama puluhan orang dengan reaksi penuh huru hara karena mendapat sajian pemicu adrenalin. Andai film ini tidak digas di paruh akhir, mungkin akan masuk ke banyak orang terutama saya sendiri sebagai sajian horror yang itu-itu saja.
7,5/10
Share This :


0 comments