Sedikit terkejut saat pertama kali tahu tentang film ini, karena disutradarai oleh Nawapol Thamrongrattanarit, yang dulu membuat film Heart Attack dan Happy Old Year produksi PH besar Thailand, GDH. Kedua film tersebut dikemas ala film artsy, yang berjalan pelan dengan pengadeganan mengalir dengan signature khas di elemen teknis dan lebih fokus pada cerita serta karakter. Di film terbaru Nawapol bersama GDH, Fast & Feel Love yang rilis beberapa bulan lalu, sajiannya terasa beda karena membawa sentuhan komedi khas GDH dengan signature tata kamera statis yang dipertahankan.
Membawa olahraga sport stacking atau susun gelas sebagai tema cerita, Fast & Feel Love berkisah tentang Kao (Nat Kirachit), pemuda berumur tiga puluhan yang memilih sport stacking sebagai identitasnya. Menggeluti olahraga tersebut sejak masih sekolah, dengan ketekunan diri juga berkat didampingi selalu oleh sang kekasih, Jay (Urassaya Sperbund), Kao berhasil menjadi atlet sport stacking kelas dunia dengan rekor waktu tercepat. Karena semakin banyak peminat sport stacking di dunia yang berusaha untuk menyalip rekornya, Kao makin fokus dan keras berlatih agar ia bisa melampaui rekor yang sudah dibuatnya sendiri.
Hampir sama dengan catur yang perlu fokus tingkat tinggi, olahraga gelas susun ini juga memerlukan keahlian serupa untuk menyusun gelas secara cepat. Bagaimana cara film mengkorelasi sport stacking dengan cerita dan karakter adalah bahwa Kao yang sangat cepat menyusun gelas ternyata tidak cepat tanggap terhadap hal-hal kecil di sekitarnya, seperti mengganti seprai tempat tidur, membersihkan kamar mandi dan lainnya. Hal tersebut juga diselipkan sebagai pembangun tensi untuk hubungannya dengan Jay.
Jay yang setia menemani Kao sejak pertama kali pacaran hingga mereka di fase tiga puluhan, memilliki kenginan yang lebih realistis dalam hubungan mereka. Ia membeli rumah yang besar dan nyaman, sebagai 'rumah'nya dengan Kao, namun sang atlet nyatanya terlalu fokus dan sibuk dengan gelas-gelasnya. Jay yang sejak awal mengurus rumah, memasak, dan mengatur segala keperluan Kao akhirnya memutuskan meninggalkannya di rumah seorang diri.
Seperti slogan film di poster, cerita mengangkat kisah sehari-hari Kao yang terlalu lama fokus ke sport stacking dan selalu dilayani kebutuhannya hingga harus adaptasi untuk melakukan kegiatan yang bahkan tidak pernah ia lakukan. Ketika film dimulai, terdapat adegan saat ia dipanggil oleh guru BK sekolah untuk evaluasi nilai dan pelajaran. Darisana penonton diberi paham bahwa Kao percaya bakat yang ia punya akan membawanya menuju kesuksesan, namun saat dewasa ia justru terlalu fokus pada sport stacking hingga tidak peduli dengan kondisi sekitar dan orang-orang yang peduli padanya. Film berhasil membawa konflik tersebut dengan baik untuk menunjang karakterisasi Kao. Keadaan makin rumit karena saat Kao seorang diri, hari menuju kompetisi semakin berjalan. Namun bukannya melampaui, justru Kao makin jauh dari rekornya.
As I said, Fast & Feel Love membawa sajian khas GDH yang diisi komedi absurd berkat kelakukan para karakter. Dalam beberapa momen terlucu yang dipunya film ini, penonton yang familiar pasti akan langsung mengingat film Parasite berkat kelucuan karakter Metal, asisten rumah tangga Kao yang diperankan dengan mantap oleh Anusara Korsamphan untuk menampilkan adegan-adegan homage ke film Korea tersebut berkat ketepatan ekspresi dan celotehan komedinya. Nawapol yang terhitung sukses membawa genre drama di film sebelumnya, ternyata cukup berhasil mengemas momen-momen komedi untuk film ini.
Film drama yang dibuat Nawapol bersama GDH yaitu Heart Attack dan Happy Old Year berhasil membangun kompleksitas cerita dan karakternya dengan baik karena lebih fokus dengan dua hal tersebut. Di film ini, momen komedi yang disajikan oleh para karakter terbilang hit and miss di beberapa momen. Selain itu, tensi film dalam menampilkan sport stacking justru diakhir makin berkurang karena pilihan cerita membawa resolusi untuk journey Kao dengan dirinya juga kompetisi yang ia ikuti. Momen drama di akhir pun jadi kurang menggigit karena durasi yang terbagi dengan porsi komedi dan aksi. Walaupun Urassaya sebagai Jay begitu hidup membawa karakternya yang mampu mengoceh panjang lebar dengan bahasa Inggris, dan Nat Kirachit dengan pembawaan Kao yang flat tapi berambisi tinggi, momen mereka belum sepenuhnya bisa tampil sememikat dua sajian drama Nawapol dengan GDH, terlebih karena kisah mereka juga menjadi ujung tombak bagi film ini. Di samping itu, yang lumayan mengganggu adalah penggunaan musik yang terlalu sering muncul mengiringi adegan yang seperti harus dimunculkan setiap cross adegan ke momen dramatis dan problematik
Melewatkan film ini saat tayang di bioskop Indonesia beberapa bulan lalu, akhirnya saya bisa nonton karena ada di katalog Netflix. Meskipun bukan sajian full drama khas Nawapol, film ini masih memiliki momen menyentuh yang melibatkan Ibu Kao, juga pemilik sekolah tempat ia mengajar sport stacking dan Metal si asisten yang hanya diam saja bisa tampil komikal. Mungkin bukan jadi sajian top seperti film-film Nawapol dengan GDH yang kuat sekali cerita dan karakternya, Fast & Feel Love tetap tampil dengan tujuan yang jelas dengan membawa sport stacking sebagai penggerak alur yang mungkin tidak pernah diangkat sineas lain sebagai sajian film. Ceritanya akan bisa mengikat dengan mudah karena dekat dengan kehidupan banyak penonton. Terlalu sibuk dengan ambisi dan prestasi sampai luput dengan eksistensi diri dan orang-orang di sekitar, apa benar fokus pada satu hal bisa meninggalkan resiko untuk hal-hal lain? You can find it by yourself here.
8.0/10
Share This :


0 comments