Menarik kalau melihat rilisan film Indonesia yang tayang di minggu ini, Kamis 14 November, karena ada dua film dengan tema yang berbeda tapi tokoh utama yang diangkat sama-sama bicara tentang perempuan. Satunya bicara tentang perempuan sebagai Ibu yang telah menjalani lika-liku rumah tangga beserta keempat anak yang sudah dewasa. Ditemani horor yang angkat kisah perempuan pendamba surga Allah dengan menikah dan mencari ridho dari bakti kepada suami, yang sayangnya bakal dilalui dengan perjalanan bak neraka. Kebetulan bisa nonton dua film ini secara back to back dan keduanya sama-sama stand out dengan gaya masing-masing. So here they are:
Bila Esok Ibu Tiada
Sepertinya film drama haru biru tentang keluarga bakal kembali jadi tontonan penggaet massa lebih masif. Beberapa bulan lalu rilis film Thailand "How to Make Millions Before Grandma Dies" di bioskop dan antusiasnya amat tinggi sebab tema dan cerita begitu dekat ke penonton kita meskipun beda teritori. Apalagi dengan film Bila Esok Ibu Tiada yang secara judul saja berpotensi membuat penonton berbondong-bondong ke bioskop, dan terbukti dari antusiasnya penonton dari hari pertama.
Mengisahkan seorang ibu bernama Rahmi (Christine Hakim) yang amat nelangsa selepas meninggalnya sang suami, Haryo (Slamet Rahardjo) apalagi dengan keempat anak mereka, Ranika (Adinia Wirasti). Rangga (Fedi Nuril), Rania (Amanda Manopo), dan Hening (Yasmin Napper) yang seperti menjauh dan saling berkonflik satu sama lain. Rahmi di usia senjanya hanya ingin tetap dikelilingi oleh keempat anaknya, tapi di saat perayaan ulang tahun Rahmi, yang ia dapat justru pertengkaran dan cekcok dari mereka. Darisanalah kita akan menengok bagaimana keempat anak yang sudah dewasa ini saling berkomunikasi sebagai saudara kandung dengan karakteristik masing-masing, dan juga Rahmi yang mendamba kebersamaan walau nyatanya ia sepi dan sendiri.
Rudi Soedjarwo (Ada Apa dengan Cinta?, Mendadak Dangdut, Sayap-Sayap Patah) kembali menyutradarai genre drama didukung kebolehan aktor-aktor besar yang mengisi jajaran pemain. Definisi keluarga paripurna dengan orang tua selegend Slamet dan Christine, juga peran keempat anak yang diwaliki aktor-aktor gemilang dari masing-masing generasi. Bisa dibilang treatment filmnya sengaja membuat penonton untuk terkoneksi dengan cerita dan karakternya sedalam mungkin, juga dengan keputusan teknis yang banyak memakai pengambilan gambar one take dan close up yang sedikit ada sentuhan realis ala dokumenter. Tak heran di beberapa momen gong yang disiapkan, reaksi penonton sudah pasti sesuai harapan. Salah satu yang sudah bocor di trailer 'Adegan Makam' yang tetap daya merembesnya terlampau kuat. Air mata mengambang Christine saja sudah bikin tetesan jatuh.
Tapi tidak seperti kebanyakan film dengan dengan delapan sekuens dan tiga babaknya, alur film ini cenderung berlompat fokus yang terpecah karena menuntut semua karakter di keluarga Rahmi harus terekspos. Turut menjadi penulis naskah yang juga menandai debuatnya di kepenulisan, Adinia Wirasti membawa kisah Ranika yang kompleks sebagai anak pertama 40an yang masih lajang. Walaupun Rangga, Rania dan Hening juga masing-masing mendapat jatah tampil yang secara bolak balik dipaparkan tapi bagaimana kehidupan mereka dan keterkaitan konflik dengan sang Ibu yang membuatnya kesepian justru tidak seekspos Ranika yang dari awal sudah tergambar sebagai si tukang ngatur dengan jatah tampil sedikit lebih banyak. Apalagi dengan sense filmnya yang cenderung kelam dan dalam, akan berpotensi menjemukan di pertengahan durasi.
In the end, the whole movie juga bukanlah sesuatu yang medioker dan tetap bervalue dengan tema yang begitu dekat dengan penonton kita. Rudi sebagai sutradara memanfaatkan betul gaya bercerita khasnya dengan narasi juga aktor-aktor berdaya tinggi. Selain karakter utama, di bagian pendukung pun juga gak kalah bersinar dengan adanya kans mereka yang sama besarnya (baca: aktor sinetron) yaitu Baim Wong, Hana Saraswati dan Immanuel Caesar Hito. Sajian drama yang disetting sedemikian rupa untuk mengundang air mata penonton yang walaupun agak susah fokus dan lompat sana sini di alur, tapi berhasil mengantarkan rasa drama duka nan dalam yang dihidupkan secara luar biasa dengan garda terdepan oleh the legend Christine Hakim sebagai Ibu.
8,5/10
Wanita Ahli Neraka
Satu yang paling mencuat dari film ini adalah bahasan pokok dari naskah asli karya Lele Laila (KKN di Desa Penari, Pemandi Jenazah). Serupa Qorin (2022) yang mengambil latar Islam dan Pesantren, Wanita Ahli Neraka juga berlatar sama yang menyorot tentang Farah (Febby Rastanti), perempuan alim anak didik Abi dan Ummi pemilik pesantren, yang mendamba surga dan ingin menjadi istri yang baik bagi suaminya kelak, Menikahlah ia dengan Wahab (Oka Antara), politikus muda yang mencalonkan diri sebagai bupati di daerahnya. Tidak ada unsur madu atau istri kedua, karena Wahab memang belum beristri dan ia memilih Farah sejak pertemuan pertama di pesantren. Awalnya semua berjalan baik sampai jalan menuju surga pelan-pelan menyiksa Farah bak neraka.
Judul yang dipakai film ini berdasar kutipan ayat dalam Al-Qur'an, dimana salah satunya menyatakan perempuan jadi kaum yang paling banyak menghuni neraka di akhir zaman. Itulah pondasi dan motivasi karakter Farah dari kajian online yang rutin ia dengarkan. Nantinya poin itu akan dipakai untuk mengkontra balik dengan Wahab dan rahasia kelamnya sebagai suami yang justru memanfaatkan Farah sebagai tumbal untuk menampilkan segmen horor debut bagi Farishad Latjuba (Mantan Manten).
Film ini memang didesain sebagai sajian horor dengan latar Islam yang sayangnya tidak terlalu spesial dari sebelumnya, biarpun tetap ada satu dua momen intens seperti saat momen Farah yang mulai menyadari ketidakberesan karena tiba-tiba ia mengkafani pocong dan setelahnya terungkap bahwa itu korban yang adalah saingan Wahab sesama calon bupati. Jumpscare dan cara si sosok setor muka juga sepola dengan film-film horor terdahulu, tapi yang paling disayangkan adalah memakai adegan mimpi sebagai pengecoh yang bahkan tidak cukup sekali momen saja. Untung film ini punya Febby Rastanti di horor pertamanya, yang sanggup mendeliver karakter Farah dengan stake yang jelas dan progres dari naif ke ketidakberdayaan sampai di babak kesurupan lawan ustad yang intens nan totalitas.
Horornya boleh rata-rata, tapi tidak dengan pokok bahasan soal perempuan dalam Islam yang layak dihormati tapi akibat sistem patriarki dan kebengisan laki-laki menggunakan ayat Al-Qur''an sebagai pembelaan untuk melakukan hal keji dalam berumah tangga termasuk kepada istri. Ini menjadi sajian yang solid dan kuat dalam penyampaiannya. Kita akan tahu Wahab adalah biang kenapa Farah sampai harus merasakan neraka dunia padahal surga yang ia damba. Film dengan cermat memilih Oka Antara dalam memerankan sosok Wahab yang amat red flag. Babak demi babak film membuka tabir soal sosoknya sebagai politikus namun juga menyimpan rahasia terkait peternakan sapi yang digunakan sebagai medium pelancar kekuasaan. Menuju babak akhir makin mempertegas bahasan utama film dan titik balik bagi karakter Farah dan Wahab. Satunya makin tidak berdaya dan satunya lagi merasa jumawa menggebuk membabi buta Febby Rastanti ðŸ˜ðŸ˜¡
Lele Laila yang berayah ustad dan ada latar pesantren, membawa ranah yang dekat dengannya itu menjadi sajian horor drama yang apik dengan pesan kuat soal wanita dan penggambaran dari dan bagi umat Allah terhadap laki-laki dan perempuan khususnya dalam rumah tangga. Wahab si politikus berseragam biru muda dan gemar bagi susu gratis untuk warganya yang memasang imej pemimpin terbaik bagi warga, nyatanya tidak selaras dengan tabiat sebagai suami, yang justru membawa neraka pada sang istri. Hanya dalam horornya, film ini belum bisa mengimbangi dengan masih memakai pola 'main aman' khas horor kita. Setelah Pemandi Jenazah yang juga memikat, Lele Laila sukses mengangkat cerita bertemakan Islam dan dieksekusi kuat oleh sutradara Farishad Latjuba. Secara ritme pun lebih baik karena stake dan fokus POV Farah tetap terjaga sehingga makin dibuat peduli dengan nasibnya. Salah satu horor apik tahun ini dengan kesegaran dan kedalaman bahasannya.
8.0/10
Share This :



0 comments