-->
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

Review Film Seni Memahami Kekasih

Sunday, September 8, 2024

Adaptasi dari buku berjudul sama karangan Agus Mulyadi. Mengisahkan perjalanan cintanya bersama sang istri, Kalis Mardiasih yang sederhana dan jenaka.


Tahu nama Kalis Mardiasih lewat Twitter/X, influencer dan aktivis yg concern terhadap isu sosial dan keseteraraan gender. Bersuamikan Agus Mulyadi, penulis dan redaktur media online Mojok, keduanya tampak selaras sebagai pasangan dengan profesi yang sebidang. Berawal dari buku 'Sebuah Seni Untuk Memahami Kekasih' karangan Agus yang terbit 2020 lalu sebagai medium untuk khalayak lebih mengenal perjalanan cinta mereka, tahun 2024 jadi kejutan manis karena kisahnya bisa diterima lebih luas lewat audio visual garapan IDN Pictures (Inang, Srimulat: Hil yang Mustahal).

Kejutan karena selain sudah diproduksi sejak era pandemi 2021/2022 dan dilanggengkan masuk bioskop, Seni Memahami Kekasih jadi salah satu film Indonesia terbaik tahun ini dan akan mudah dicintai oleh penontonnya. Digarap oleh sutradara Jeihan Angga (Mekah I'm Coming, Just Mom) hasil garapan skenario Bagus Bramanti (Dear Nathan, Kartini), kisah Kalis (Febby Rastanty) dan Agus (Elang El Gibran) sarat interaksi kasual manusia yang hangat, apa adanya, seringkali diisi gombalan cinta dari Agus ke Kalis juga humor absurd dari mereka dan orang-orang sekitarnya.

Semua berawal saat Kalis yang asal Blora merantau ke Solo untuk berkuliah, meninggalkan keluarga dan empat sahabatnya yang memilih jalur berbeda dengan tidak memasukkan unsur pendidikan dalam tujuan, termasuk Rahayu (Sisca Saras) yang nikah muda, punya anak di usia muda, dan menjadi TKW setelah cerai dari suami akibat menerima KDRT. Subplot yang tidak hanya berfungsi sebagai tempelan, karena nantinya akan jadi poin penting bagi Kalis dan Agus dalam proses belajar mereka soal komitmen rumah tangga.

Pertama kali bertemu sebagai rekan kerja antara penulis dan editor di Mojok, sampai ketertarikan satu sama lain itu muncul. Sudah pasti kita akan tahu endingnya akan seperti apa, makanya cerita seperti ini lebih fokus pada bagaimana proses itu dihantarkan, dan semua yang terlibat di Seni Memahami Kekasih paham akan itu. Agus dan Kalis yang ketara saling suka dibawakan dengan obrolan santai dan jenaka dalam proses saling mengenal, baik dan kurangnya.


Adaptasi dari buku berjudul sama karangan Agus Mulyadi. Mengisahkan perjalanan cintanya bersama sang istri, Kalis Mardiasih yang sederhana dan jenaka.


Semakin gemilang karena dua karakter sentral dibawakan dengan cemerlang oleh Febby Rastanti dan Elang El Gibran. Febby menampilan akting terbaik sepanjang karir film. Pengucapan dialog Jawa di sepanjang film berhasil ia libas dengan meyakinkan dan natural, cueknya Kalis, aksi reaksi ketika bersama dengan Agus juga karakter lain. Beruntungnya lagi ia dapat tandem seperti Elang, yang memang selain wong Jawa totok, juga kembali piawai mengolah peran seperti sebelumnya. Agus yang sederhana, sedikit kaku dan oldies, tapi penuh hangat dan guyon, juga berprinsip tinggi yang tidak hanya ditunjukkan untuk dirinya. Mudah bagi kita untuk terhubung dan menyukai masing-masing dari mereka, seperti Agus dan Kalis yang saling mengagumi

Buku yang ditulis oleh Agus, dari sudut pandangnya, di film diubah menjadi Kalis sebagai POV. Bagaimana kita tahu dari awal ia tampak memikul 'beban' diantara orang-orang sekitar dengan gelar pendidikan dan profesinya, juga jadi saksi hidup Rahayu sebagai satu lagi yang tak berdaya akan nasibnya sebagai perempuan. Sisi-sisi serius ini dimasukkan dalam prosesnya bersama Agus. Ada momen ia ragu di tengah hubungan karena pengaruh Rahayu dan sikap Agus yang tak bisa ia terima, dan akhirnya darisanalah Kalis belajar soal hubungan antar manusia in general, komitmen jangka panjang, dan pentingnya memiliki tujuan hidup dan visi yang sama apabila sudah mantap untuk berpasangan.

Momen-momen seperti di lapak buku pinggir jalan, makan bareng di warung pecel, mampir ke kos-kosan satu sama lain. Vibes yang hangat, apa adanya, ditambah kehadiran sosok di sekitar seperti Yana (Devina Aureel), Bapak Kos dan Bapak RT dan si Burung Beo yang juga pasti akan terus dipercangkan oleh penonton selepas film usai karena sukses jadi spotlight menghantarkan komedi absurd tepat sasaran, didukung efek animasi di tiap cute moment dan jenaka

Filmnya pun berdurasi cukup singkat dengan 90 menit penyajian, namun tetap dapat tampil padat dan pesan yang dimaksud bisa tersampaikan, jika ingin lebih menengok proses hubungan Kalis dan Agus. Makanya film ini memacu tempo dengan cepat di awal. sisi Kalis sang aktivis diredam untuk menguarkan sisi lain sebagai perempuan dan pasangan Agus. Disitulah sublot Rahayu dimaksimalkan, yang entah kisahnya memang nyata ada atau hanya untuk kebutuhan dramatisasi (saya belum baca versi buku). Tampil singkat, Sisca Saras yang sukses dengan debut film Sobat Ambyar kembali mencuri perhatian sebagai Rahayu, mewakili isu perempuan muda yang (mungkin) tidak seberuntung Kalis. Kisahnya dengan sang suami dan anak, Akmal dan Nurcholis jadi gong penuh haru biru yang makin melengkapi perjalanan selanjutnya bagi Kalis-Agus, walaupun mungkin penghantaran yang terkesan mendadak dan agak dipaksakan.

Tidak menjadi atau mengalami spesifik cerita seperti Agus-Kalis, nyatanya Seni Memahami Kekasih bisa dipresentasikan secara umum, pun film ini lulus sensor dengan kategori Semua Umur. Para pembuatnya paham untuk membawa rasa yang sama dari buku ke film agar lebih banyak penonton merasa dekat dan terhubung. Drama komedi romantis yang tersaji dengan kehangatan interaksi manusia, romantisme ugal-ugalan Agus ke Kalis yang banyak manisnya daripada cringenya, dan humor-humor absurd khas Jeihan Angga yang shoot to the point, dan isu-isu drama terkait perempuan, keluarga, dan pernikahan yang makin menambah bobot film ini, menjadi salah satu yang terbaik di 2024.


9.0/10






 

Share This :

0 comments