Ariel Tatum yang memulai karir aktingnya sejak cilik di layar televisi, di masa dewasanya lebih sering tampil di film. Puncaknya ketika film yang ia bintangi berjudul Saya-Sayap Patah bersama Nicholas Saputra sukses meraih jutaan penonton di 2022 lalu. Soraya Intercine Films jadi salah satu yang tertarik merekrutnya menjadi pemain untuk film teranyar mereka dan hadirlah Minar, karakter dari Catatan Harian Menantu Sinting adaptasi novel berjudul sama karangan Rosi L. Simamora. Peran komedi pertamanya ini membuatnya bertandem dengan komika Raditya Dika, yang surprisingly sukses memberikan tontonan yang kocak dan crowded experience. Salah satu yang terbaik di tahun ini.
Radit yang kita tahu sepak terjangnya di film telah melahirkan banyak karya sebagai sutradara hasil dari adaptasi buku-bukunya sendiri, juga empat cerita orisinil, Single (2015), The Guys (2017), Target (2018), dan Single 2 (2019) yang kesemuanya diproduksi oleh Soraya Films, kali ini untuk pertama kalinya didapuk hanya menjadi aktor dan memerankan Sahat, laki-laki keturunan Batak bermarga Purba yang menjadi suami Minar. Tanpa basa basi, film langsung memulai dengan adegan pernikahan Minar dan Sahat, untuk selanjutnya menyaksikan gelora pasangan muda ini..beserta Mamak Mertua.
CHMS menggulirkan ceritanya memakai POV Minar yang dibarengi dengan voice over hampir di sepanjang film berjalan (ciri khas Soraya Films terutama film drama). Sebagai pasutri baru di keluarga Batak, Minar menghadapi masa awal pernikahan dengan turut campur tangan mamak mertua (Lina Marpaung) yang menaruh harapan besar padanya dan Sahat akan kehadiran penerus marga atau anak laki-laki. Peran Mamak Mertua di film ini juga amat penting terutama dalam mendeliver berbagai ocehan komedi yang kocak sekaligus menyebalkan. Kombinasi solid dari pasutri baru dan mamak mertua ditambah plot cerita yang memadai membuat Catatan Harian Menantu Sinting menjadi karya terbaik Soraya Films dalam beberapa tahun terakhir.
Kita perlu tengok siapa orang dibaliknya. Ada Sunil Soraya, anak dari pemilik Soraya Intercine Films, Ram Soraya yang kembali menjadi sutradara setelah absen 11 tahun pasca Tenggelamnya Kapal Van der Wijck yang fenomenal. Film adaptasi dari buku sastrawan Buya Hamka tersebut digadang sebagai salah satu film roman apik di era modern, dengan kualitas teknis jumawa dan cerita yang menyayat hati dan sampai kini masih sering dibicarakan. Membawa genre yang berbeda dari TKVDW, nyatanya Sunil mampu membuat CHMS tampil maksimal dengan penyutradaraan, alur cerita, teknis apik, dan akting memukau aktor-aktornya. Semoga Bapak Sunil tidak hiatus dalam waktu yang lama lagi. He's the Soraya!
Secara cerita film ini sebenarnya sudah baik dan rapi dalam memaparkan setiap bagian dari perjalanan Minar dan Sahat sebagai pasutri muda dengan lika-liku keluarga besar Batak. Bagaimana latar Batak itu sendiri dimasukkan begitu kuat ke berbagai lapisan cerita dan karakter, termasuk motivasi dan konflik yang hampir semua berhulu dari Mamak Mertua dengan sikapnya yang keras dan jenaka, yang mana di titik tertentu juga nampak menyebalkan, apalagi akan banyak penonton yang mudah terhubung dengan cerita dan karakter semacam ini. CHMS memberi banyak celah bagi untuk momen komedi secara mengejutkan bisa membuat tawa dan heboh satu studio dengan timing tak terduga. Namun mungkin karena ingin meminimkan efek pada bahasan lebih dalam dan serius yang padahal sempat dihadirkan sebagai konflik bagi Minar dan Sahat, bagian itu hanya tampil sekelebat dan less urgency sehingga film ini sedikit terasa episodik.
Mamak Mertua yang diperankan Lina Marpaung sebenarnya peran pendamping yang excellent dengan kebolehan aktingnya sebagai yang pernah menerima Piala Citra FFI 2012 silam. Peran yang tidak hanya sebagai comic relief semata, namun menjadi hulu dan penggerak dinamika keluarga Batak dengan segala sikap, prinsip, obrolan dan produk budaya yang total dan detail ditampilkan. Akan lebih menarik bila narasi sedikit memberi gejolak pada karakter Mamak Mertua, yang lagi-lagi sempat tersirat adanya bahasan generational trauma di salah satu adegan antara dia dan Minar, tapi skrip tidak lagi memperdalam soal itu dan Mamak Mertua kembali ke settingan awal. Karakterisasi yang minim gejolak dan terasa satu layer ini akhirnya jadi terkesan mendadak pada penggambaran sosoknya setelah satu peristiwa penting di ending. Mengingatkan pada bagiamana film My Stupid Boss (2016) membentuk karakter Bossman begitu menyebalkan di awal tapi ternyata di 'twist' dengan sisi lainnya
Namun untungnya Lina Marpaung disokong oleh Raditya Dika dan Ariel Tatum yang berhasil menjalin chemistry memikat dan menggelitik dengan tektokan dan aksi reaksi mereka. Radit menjawab keraguan beberapa penonton terkait aktingnya yang sering tampak kaku di film-film yang ia pegang sendiri (sebagai sutradara dan penulis skenario), di film ini ia tampak begitue joy menikmati peran cowok Batak yang memang suku aslinya. Hanya Ariel Tatum yang non-Batak dari para karakter keluarga sinting ini, namun nyatanya pilihan cerita yang mengambil dari sudut pandang Minar berhasil memaksimalkan karakternya yang tidak hanya piawai dalam meresepon momen dan tektokan komedi, karena Ariel juga akan memberi momen tangis dan haru dalam perjalanannya sebagai istri dan anak (yatim piatu) dalam keluarga besar dengan segala maknanya.
Catatan Harian Menantu Sinting mungkin belum sepenuhnya sempurna sebagai drama komedi romantis terutama di beberapa poin terkait penokohan karakter dan minimnya stake yang mengakibatkan konflik kurang pelik dan sambil lalu. Tapi secara pribadi, film ini termasuk yang berhasil dalam beberapa tahun terakhir diantara keluaran Soraya Films. Well made production yang jadi ciri khas mereka tetap dipertahankan dengan memasukkan berbagai unsur budaya Batak seperti pernikahan dan berbagai upacara adat lainnya seniat, sedetail, dan semewah mungkin termasuk urusan menghadirkan cameo di momen suguhan budaya tersebut. Cerita pasangan urban Jakarta yang berusaha ngeblend dengan kehidupan keluarga dengan adat istiadat yang masih kokoh dipegang. Akting paripurna dan 'Piala Citra Worthy' untuk Lina Marpaung. A lot of comedic scene memadukan kekonyolan Mamak Mertua, reaksi Minar, Sahat dan keluarga lainnya serta bahan joke yang fresh seperti 'Status Facebook' dan 'Senter Fink'. Cukup mengejutkan juga film ini dibuat oleh yang sudah absen bikin film 10 tahun lebih dan film terakhirnya yang kental dengan unsur puitis membalut roman tragis lintas waktu. Sunil Soraya, been waiting you on the next movie!
8.5/10
Share This :


0 comments