-->
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

Review Film The Architecture of Love

Friday, May 10, 2024

The Architecture of Love atau TAOL adalah film yang diadaptasi dari novel laris karya Ika Natassa diperankan oleh Nicholas Saputra dan Putri Marino.


Cukup lama sinema Indonesia absen dari genre romance berlatar keelokan luar negeri. Tahun ini, berkat novel Ika Natassa berjudul The Architecture of Love yang mengambil cerita di New York, hadir film berjudul sama yang sudah disiapkan sejak 2019. Perjalanan panjang yang berbuah manis, karena berhasil membangkitkan lagi nuansa hangat dan cinta di bioskop, dengan manisnya interaksi dua manusia, River dan Raia untuk kembali menerima cinta di saat masih bergelut duka.

Raia (Putri Marino), novelis Indonesia yang 'kabur' ke New York untuk menemukan suasana dan inspirasi baru setelah mengalami insiden yang justru datang tepat di hari bahagianya saat film yang diadaptasi dari novelnya rilis ke publik. Raia kena writer's block biarpun sudah berbulan-bulan menetap dan menjelajah New York bareng sahabatnya Erin (Jihane Almira), sampai ia berkenalan dengan River (Nicholas Saputra) berkat satu momen tak disengaja. River yang seorang arsitek asal Indonesia dan juga punya 'agenda' di New York membawa Raia untuk melihat kota itu dari sisi yang berbeda.

The Architecture of Love (TAOL) dikabarkan jadi film termahal rumah produksi Starvision, yang terlihat wajar karena hampir delapan puluh persen filmnya berlatar disana. Menggandeng Teddy Soeriatmadja sebagai sutradara, ditambah combo maut Nicholas dan Putri, film ini berhasil stand out sebagai drama cinta dewasa yang sudah jarang ditemui di persinemaan lokal.

Arahan Teddy yang dikenal sebagai penggarap film drama apik (Badai Pasti Berlalu, Lovely Men) membuat film TAOL tampil cantik berkat sudut-sudut New York di berbagai tempat dan bangunan penting yang tidah hanya sebagai latar, tapi jadi penanda pada setiap momen dalam hubungan Raia dan River. Jalan-jalan + dapat ilmu dari mas arsitek + liat akting manis Nicholas dan Putri 😀perjalanan cerita mereka turut dilengkapi dengan sokongan teknis yang makin menguatkan berbagai momen di film. Outfit dari Hagai Pakan dan iringan musik yang moody dan syahdu dari Ricky Lionardi jadi salah duanya. Terasa seperti romance hollywood dengan citarasa lokal. Once again, film (ter)mahal dari Starvision.

The Architecture of Love atau TAOL adalah film yang diadaptasi dari novel laris karya Ika Natassa diperankan oleh Nicholas Saputra dan Putri Marino.

TAOL sebagai film apik tidak bisa lepas dari bagaimana kerennya dua tokoh sentral memerankan peran mereka. Putri Marino kembali mengulang kedalaman aktiing mumpuni seperti yang ia tunjukkan di peran-peran terdahulu, dan walaupun mungkin di permukaan terlihat serupa, tapi cara Putri memberi kedalaman pada karakter Raia yang punya masalah dan backstory sendiri patut diapresiasi lebih. Sorot mata, gestur, mimik dan seluruh anggota tubuh bermain maksimal di berbagai momen dan emosi. Ada satu scene yang cuplikannya sudah tampak di trailer (clue: tangga) yang bahkan bisa membuat naik turun emosinya amat detail dan tampak effortless, menunjukkan Putri begitu intim dengan perannya.

Pun Putri memiliki tandem yang lebih senior dan sama hebatnya. Nicholas Saputra. Sebagai sarjana arsitek di kehidupan nyata, mungkin tidak akan sulit untuk bermain sebagai River si arsitek, tapi sebagai seseorang yang juga punya agenda untuk 'kabur' ke New York, Nicho menguarkan letupan-letupan dalam karakternya yang jarang kita temui di peran sebelum ini. Bagaimana ia berinteraksi dengan orang-orang di sekeliling termasuk dengan Raia, bagaimana dan apa yang menyebabkan River berada di New York, semua dipaparkan dengan detail.

Alur TAOL akan mudah untuk dimengerti, baik yang sudah membaca novelnya ataupun yang baru mengenal cerita melalui film ini. Terdapat perbedaan dari segi cerita antara novel dan film yang di satu sisi memperkaya rasa dan pesannya, namun di satu sisi membuat satu hal penting dan tampak mantap di novel jadi kurang mengigit di film. As I mentioned above, River dan personalnya tersorot dengan baik sebagai seseorang yang penuh trauma dan duka. Empati akan mudah didapat melalui cerita dan flashback yang manis sekaligus miris, but from my personal opinion yang sudah membaca novelnya sejak 2018 dan amat kagum kepada Ika Natassa dengan bagaimana ia membangun cerita dan karakter, di film TAOL merasa karakter Raia kurang digali lebih dalam lagi.

Kita akan diperlihatkan sejak awal film alasan ia ke New York karena apa, dan setelahnya ia membangun dirinya lagi selama tinggal bersama Erin meskipun mengalami hambatan writer's block. Film justru menambah satu karakter baru di hidup Raia yang untuk selanjutnya difungsikan sebagai plot twister yang terkesan mendadak di akhir tanpa kedalaman seperti River dan adiknya, Aga (Jerome Kurnia) yang juga membedakan dengan novel, dimana porsinya dibuat lebih banyak tanpa menggangu jalinan dua tokoh utama. Menurutku, akan lebih baik apabila cerita dengan Alam (Arifin Putra), mantan suaminya, juga lebih diperdalam after that shocking moment, atau bagaimana momen manis pahit mereka sebelum tragedi itu. Itu yang membuat struggle Raia di New York tidak sekuat River yang benar-benar tergali sampai ke kehidupan personal dan keluarganya, persis seperti yang ada di novel.

Sudah seperti kebiasaan kalau sebagai pembaca buku yang difillmkan, akan menaruh ekspektasi, apalagi kalau buku itu punya tempat tersendiri dan akhirnya sulit untuk tidak mengkomparasi. The Architecture of Love adalah novel Ika Natassa yang cukup personal karena menemani di tahun-tahun krusial dalam hidup. Maka dari itu film ini jadi yang paling diantisipasi di 2024 sejak diumumkan lima tahun lalu. Hasilnya, sebagai sebuah feature film, TAOL tetap sebuah karya yang apik dan mumpuni. Segala aspek dari akting, penyutradaraan, dan teknis dicurahkan semaksimal mungkin untuk membuat film drama Indonesia yang berkelas. Tidak hanya dimanjakan oleh visual dan musik yang indah, filmnya berhasil memberi rasa dengan karakter dan penuturan yang apik seperti bukunya , tentang menemukan kembali diri sendiri untuk cinta dan berdamai dengan trauma.


9.0/10

Share This :

0 comments