-->
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

Review Film Horor Lebaran 2024: Badarawuhi di Desa Penari & Siksa Kubur

Wednesday, April 24, 2024

Review film (horor) lebaran 2024, yang awalnya tiga jadi dua, dan horor semua. Horor besar beda kemasan karya Kimo Stamboel dan Joko Anwar.


Sudah jadi tradisi persinemaan Indonesia sejak era 2000an, ada slot buat konten blockbuster yang memanfaatkan momentum libur panjang, yaitu di saat banyak orang berbondong-bondong untuk mudik dan merayakan lebaran Idul Fitri. Slot emas ini selalu jadi ajang rebutan bagi filmaker dengan menayangkan karya potensial mereka. Sila di googling film-film Indonesia yang tayang dari Lebaran 2007 sampai sekarang, pasti bakal nemu banyak film besar, dengan perolehan penonton yang juga besar.

2024 sebenarnya digadang ada tiga film yang akan mengisi momen liburan, tapi akhirnya film drama sekuel Dua Hati Biru memilih mundur seminggu dan mempersilahkan duo maut dari genre horor; Badarawuhi di Desa Penari dan Siksa Kubur yang masing2 punya kans besar, production value besar, juga nama-nama besar yang menaungi filmnya, dipimpin masing-masing oleh sutradara Kimo Stamboel dan Joko Anwar.


Badarawuhi di Desa Penari

Film ini bertindak selaku prekuel dari film Indonesia terlaris sepanjang masa adaptasi dari thread Simpleman, KKN di Desa Penari (2022). Selayaknya produksi MD Pictures selaku PH besar tanah air dan umumnya format sekuel, Badarawuhi dibuat lebih besar dan ambisius. Lihat bagaimana promosi gila-gilaan dengan menjadikan film ini sebagai film Indonesia pertama yang syuting menggunakan kamera teafiliasi IMAX dan rilis di format tersebut, juga kerja sama dengan Lionsgate selaku studio kenamaan Holywood untuk distribusi Badarawuhi di pasar Internasional.

Mengambil latar waktu puluhan tahun sebelum cerita mahasiswa KKN, Badarawuhi mengisahkan tentang Mila (Maudy Effrosina) yang berkunjung ke Desa Penari bersama kerabat dan kawan-kawannya, untuk mencari jawaban terkait kondisi kritis yang dialami sang ibu yang ternyata masih berkaitan dengan any mistic things di desa tersebut berkat ulah sang penguasa, Badarawuhi.

Review film (horor) lebaran 2024, yang awalnya tiga jadi dua, dan horor semua. Horor besar beda kemasan karya Kimo Stamboel dan Joko Anwar.

Kimo Stamboel kembali ditunjuk sebagai sutradara untuk film dari semesta Simpleman setelah tahun lalu cukup mengesankan dengan Sewu Dino. Harus diakui dengan dukungan penuh dari MD Pictures, Kimo dan tim membawa teknis Badarawuhi menjadi makin powerful dari KKN. Masih dengan set yang sama namun semakin menunjukkan sinyal lokasi cerita dengan penyorotan jelas pada plat kendaraan 'P',  sinematografi, tata busana dan make up jadi hal yang patut diapresiasi untuk memberi kesan kuat pada momen-momen horor, khususnya pada gelaran tari dari para dawuh di Napak Tilas dan Angkara Murka.

Walaupun mengalami peningkatan dibanding pendahulunya, trope yang digunakan di Badarawuhi masih serupa dari segi alur penceritaan. Misteri yang ditampilkan disini masih di pusaran 'How' Desa Penari menjalankan tradisi dan budaya mistis yang melibatkan warganya dengan tarian, tanpa menggali lebih sisi 'Why' terutama sosok Badarawuhi yang pede ditampilkan di judul. Ini yang membuat pengalaman nontonnya tidak jauh beda dengan KKN di Desa Penari.

Meskipun kurang gokil di cerita, segi teror masih terbantu berkat tangan Kimo Stamboel, yang digadang sebagai 'penyelamat franchise'. Teror dengan jumpscare yang di beberapa titik berfungsi sebagai penggedor rasa penasaran dan takut penonton, juga scene para dawuh di Napak Tilas beserta Badarawuhi yang makin menunjukkan eksistensi dan keseksiannya. Namun satu yang paling kusorot adalah adanya Dinda Kanya Dewi sebagai salah satu karakter kunci, yang kebagian momen krusial peningkat tensi teror dan berhasil dibawakannya berkat performa total dari sang aktris dan tata rias yang apik. Aulia Sarah, Maudy Effrosina, dan pendatang baru Claresta Taufan juga sukses menguarkan aura Penari's Angels yang indah dan mistis secara bersamaan.


8.0/10


Siksa Kubur

Joko Anwar di film panjang ke 10-nya mengadaptasi karyanya sendiri; film pendek Siksa Kubur yang fenomenal di era 2012an, jauh sebelum Jokan meremake Pengadi Setan (2017) dan makin dikenal luas sebagai spesialis horor arus utama. Siksa Kubur bisa dikatakan projek beliau yan ambisius, mulai dari premis cerita, line up aktor yang terlibat, dan pilihan untuk membuat pengisahannya menjadi banyak tanda tanya yang berhasil membuat ramai netizen sampai saat ini dengan berbagai spekulasi dan teori.

Sejak kedua orang tuanya tewas akibat peristiwa bom bunuh diri. Sita (Widuri Puteri) punya satu tujuan sampai dia dewasa (Faradina Mufti). Membuktikan kalau siksa kubur tidak ada dan menjadi saksi mata langsung dengan memilih orang paling berdosa dan dikuburkan bersamanya ketika orang tersebut meninggal. Dibantu sang kakak, Adil (Muzakki Ramdhan/Reza Rahadian), mereka hidup saling mengisi selepas jadi yatim piatu. Awalnya tinggal di pesantren di sebuah desa, kemudian ketika dewasa, Sita menjadi suster di panti jompo, dan Adil jadi pemandi jenazah sekaligus tukang gali kubur.

Review film (horor) lebaran 2024, yang awalnya tiga jadi dua, dan horor semua. Horor besar beda kemasan karya Kimo Stamboel dan Joko Anwar.

Joko Anwar menampilkan Siksa Kubur sebagai horor yang berani. Dibawanya gaya khas sebagai pencerita yang fokus pada perjalanan karakter dan intrik psikologis selayaknya Pintu Terlarang (2009). Dibanding horor religi lain, jelas Siksa Kubur tampil stand out karena kekuatan cerita yang dibawa. Momen-momen mencekam tetap ditampilkan, namun jika yang kalian harap adalah hantu atau dedemit seperti di Pengabdi Setan, film ini bukan jawabannya. Siksa Kubur lebih fokus pada obrolan dan tindak tanduk karakter yang banyak membahas soal hitam-putih-abu kehidupan, eksistensi manusia dan Tuhan, pengakuan dosa, dan tentu saja siksa kubur itu sendiri. Beruntunglah filmnya mempunyai arahan dan pelakon yang amat kuat walapun banyak yang tampil hanya sekelebat, tapi mereka berfungsi dengan baik sebagai karakter dan penting untuk cerita.

Sejak awal film, perjalanan Sita dan Adil lah yang akan kita simak. Bagaimana mereka bertahan hidup setelah trauma masing-masing yang begitu dalam dengan tewasnya kedua orang tua. Widuri dan Faradina sebagai Sita juga Muzakki dan Reza sebagai Adil menjawab tagline yang ada di poster film. Kita akan percaya kalau mereka adalah Sita dan Adil versi remaja dan dewasa, yang tumbuh denga luka dan berhasil dibawakan dengan sangat gemilang. Beragam emosi dan gestur kecil bisa kita tangkap dan itu membuat makin dekat dengan karakternya, seperti Adil dewasa yang akibat kejahatan untuknya saat remaja, berdampak pada bagaimana ia bereaksi di momen-momen tertentu. Cluenya adalah...mengintip selangkangan mayat.

Tanpa melupakan esensi sebagai film horor, Joko Anwar tetap memasukkan momen-momen creepy yang banyak melibatkan sudut-sudut gelap dan sempit. Favorit personal ada di ending yang gila-gilaan itu, dan momen mesin cuci melibatkan Christine Hakim. Spoiler alert! Di babak kedua ada momen ketika Sita berhasil masuk ke kubur si pendosa dan berhasil keluar. Ditampilkanlah keseharian Sita dan Adil namun dengan berbagai kejadian aneh yang menimpa keduanya termasuk rentetan teror yang ada di panti. Sita yang lambat laun makin terkikis oleh kepercayaannya sendiri, akhirnya diberi jawaban sekaligus memberi jawaban untuk penonton dengan momen-momen di ending yang Astagfirullah itu. Hingga film selesai dan lahirlah berbagai teori dan konspirasi yang bisa kita tengok bersama di sosial media. Harus diakui filmnya sukses membawakan visinya, termasuk dalam 'mengecoh' bagian penceritaan. Membuatnya tampil tidak seperti horor arus utama, tapi buatku babak kedua yang cukup bisa dinikmati walaupun agak tertatih namun tetap menarik tapi  mungkin itu bukan hal yang nyata, rasanya jadi agak gimana.


8,5/10

Share This :

0 comments