Tahun 2024 baru berjalan dua bulan, kerennya gegap gempita untuk film nasional sudah terasa. Mengisi Januari dengan berbagai line up film besar dan meyakinkan seperti. Sehidup Semati, Ancika 1995, dan Pemukiman Setan, Februari tahun ini boleh dikatakan sebagai 'Pre Lebaran' karena meriahnya film-film yang mengisi jadwal tayang. Tidak hanya karena diisi line up produksi skala besar dari PH kenamaan, tapi juga antusiasme penonton yang sangat baik.
Agak Laen memulai Februari dengan amat meriah, per hari ini jumlah penonton sudah di angka 4,7 juta dan pastinya akan terus bertambah mengingat masih tingginya minat penonton. Kemudian di tanggal 7 Februari tayang Pasutri Gaje yang menjadi comeback Bunga Citra Lestari ke layar lebar, sekaligus kolaborasinya kembali untuk kelima kali bersama Reza Rahadian, her crime partner since Habibie Ainun (2012).
I've watched those two and they can satisfying me, A LOT. Here's my POV:
Agak Laen
Sejujurnya, Agak Laen ini nggak pernah sama sekali masuk dalam watchlist sejak dipromosikan. Selain absen sebagai audience podcast Agak Laen yang jadi inspirasi film ini, ku ngerasa sudah paham duluan seperti apa gaya bercerita film komedi yang isinya banyak diisi para komika (baca: film Ernest Prakasa, he's good at branding himself and their circle). Tapi akhirnya berkat ajakan teman dan juga udah lama nggak dibuat ketawa di bioskop, keluar studio setelah nonton Agak Laen dengan rasa riang dan amat puas. Masuk satu film terfavorit 2024, mutlak!
Paling ku hightlight dari Agak Laen adalah gimana film ini punya cerita yang kuat, padat dengan karakter yang all out bahkan untuk pemeran pendukung sekalipun, seperti Indah Permatasari sebagai pelakor, Tissa Biani penjaga loket rumah hantu, dan penyanyi Anggi Marito (she's good act) sebagai pacar Bener yang dibuat oleh cerita benar-benar punya peran dan bergerak sesuai plot.
Premisnya juga unik, Bene, Oki, Jegel, dan Boris, pengelola rumah hantu yang hampir sekarat dan bakal dijual. Sementara mereka sendiri punya problem personal masing-masing, yang semuanya nggak jauh dari soal finansial. Di satu momen, setelah ngide buat renovasi rumah hantu biar makin seram, rumah hantu itu beneran jadi seram dan banyak pengunjung karena adanya sosok hantu beneran, yang tewas mendadak setelah kena serangan jantung dan mayatnya dengan sengaja dikubur oleh mereka berempat. Pundi-pundi uang datang, namun di satu sisi si mayat terus dicari keberadaannya terlebih dia adalah calon anggota legislatif.
Sekiranya udah bisa nebak kelucuan film akan ditebar dimana, dan seperti apa kehebohan kuartet Agak Laen yang memakai karakter dengan nama asli mereka namun dengan cerita fiksi orisinil ini. Banyak yang bilang pakem komedi di Agak Laen termasuk baru, beda dan heboh bahkan jadi yang paling lucu dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun selera komedi juga termasuk subjektif, tapi harus diakui cara film ini membawa komedinya termasuk berhasil dengan timing yang pas dan joke-joke ala film komika yang penuh kreatifitas.
Memang kadang momen komedinya hit and miss, pun asal masuk minim substansi dengan jalinan plot cerita. Semua karakter yang ada dipastikan akan kebagian momen komedi entah itu karena momennya sengaja dibikin lucu atau memang itu sudah dibawa oleh skrip. Dan sekali lagi, selayaknya film komedi khas ERNEST PRAKASA and the gang, Agak Laen dengan tidak terlalu mengejutkan punya momen drama yang juga sama kuat dan menyentuh berkat skenario yang dengan bijak dan rapi membagi porsi untuk berbagai genre yang ada, begitu juga dengan karakter-karakternya yang hidup dan natural dalam bermain.
Keempat pemain utama Agak Laen yang perihal chemistry sepertinya tidak akan jadi persoalan sama sekali. Berkat kebersamaan mereka selama ini, mau itu sekuen komedi, drama, bahkan horor, bisa buat gempar dan gelak tawa kencang juga haru. Terkhusus Oki Rengga, kita tinggal tunggu bagaimana posisinya dalam pemeran pendatang baru terbaik, karena porsi ceritanya yang cukup tersorot dan deep disini. Sebuah hiburan skala komunal, yang momen tayangnya amat pas dikala kondisi negeri kita yang lumayan panas berkat euforia pemilu. Film yang cerita dan karakternya membumi, dekat dengan penonton, dan momen drama haru yang akan banyak lekat dengan penonton. Tak heran sebentar lagi akan masuk ke top 5 film Indonesia terlaris sepanjang masa!
9.0/10
Pasutri Gaje
Pasutri Gaje jadi film Indonesia ketiga hasil adaptasi dari cerita populer Line Webtoon, setelah 'Terlalu Tampan' dan Eggnoid' yang dibuat Visinema, kali ini giliran Falcon Pictures coba peruntungan dengan memvisualkan kembali cerita pegawai negeri sipil muda yang baru saja menikah, Adimas dan Adelia ke format layar lebar. Combo maut sejak film Habibie & Ainun, Reza Rahadian dan Bunga Citra Lestari dipercaya memerankan karakter pasangan tersebut, yang sayangnya tidak semua menyambut baik pemilihan mereka karena dianggap miss cast dan jauh dari ekspektasi banyak pembaca versi webtoon, yang kebanyakan menilai Reza-Bunga amat jauh secara look dan umur dengan versi webtoon.
Cerita Pasutri Gaje berporos pada Adimas dan Adelia, yang akhirnya menikah setelah mendapat restu dari ayah Adelia (Indro Warkop) yang awalnya menganggap calon menantunya less qualified karena berbagai faktor...gaje. Sebagai film komedi dengan unsur romansa, wajar bila film ini mendulang gelak tawa tidak hanya dari karakter Adimas dan Adelia dengan chemistry dan kegemasan memikat, namun karakter pendukung di sekeliling mereka juga tersorot dan tampil sesuai kadarnya. Indro Warkop, Kiky Saputri, Zsa Zsa Utari, Andre Taulany yang sudah kita kenal di berbagai film komedi, bahkan Arifin Putra dan Nadine Alexandra mendapat cukup sorotan sebagai rekan kerja Adelia dan Adimas di kantor pemerintah daerah.
Mengadaptasi cerita webtoon yang terdiri dari sekian season dan episode, menjadi PR bagi pembuat film ini untuk membuat filmnya tetap dapat dinikmati sebagai feature film yang baik tanpa menghilangkan esensi dan nyawa materi asli. Maka di visual Pasutri Gaje, penonton akan disuguhi animasi khas komik dengan warna dominan cerah yang memperkaya nuansa adegan. Bagian visual ini juga nular ke artistik, dan kostum pemain khususnya BCL yang sangat match dalam membawa visi centil dan manja karakter Adelia.
Film arahan sutradara Fajar Bustomi dengan skrip yang digarap oleh Alim Sudio ini tetap memberi fokus pada dinamika Adimas dan Adelia, dalam hal ini sebagai pengantin baru dengan perbedaan prinsip dalam memiliki keturunan. Adimas awalnya keukeuh nunda punya anak mengingat berbagai pertimbangan karena profesi mereka berdua yang hanya PNS di kantor kecamatan. Beda dengan Adelia yang awalnya ingin punya momongan, tapi seiring berjalan waktu juga berkat faktor luar seperti kengototan ayah Adelia untuk punya cucu, dan lingkungan kerja yang menggambarkan sekali bagaimana kondisi nyata sekitar kita (baca: tukang julid 😂) Adimas dan Adelia berkompromi dan saling belajar dengan situasi mereka.
Diluar pro kontra yang ada, Pasutri Gaje tetap dapat dinikmati dengan baik sebagai suatu film berkat pengarahan dan usaha pembuatnya untuk tampil senyawa dengan webtoon. Tanpa memperhitungkan peran utama yang jatuh pada Reza dan Bunga, masih harus diakui mereka adalah nyawanya film ini, dan makin membuktikan kapasitas keduanya sebagai aktor dengan chemistry natural berkat kedekatan dalam keseharian. Sisi cerita masih seperti sekuen ala komik yang dijahit kurang rapi, khususnya babak komedi dengan figur-figur pendukung untuk menambah semarak cerita, sehingga membuatnya masuk ke bahasan utama dengan langkah yang cukup panjang and make freeze moment di waktu tertentu, but overall this still a good movie with lovey dovey ambient, gelak tawa yang berhasil tercipta berkat kebanyolan karakter dengan tingkah dan dialog, serta pesan menyentuh tentang keluarga, dan bagaimana menjaga dinamika dalam berkehidupan sosial, khususnya sebagai keluarga baru.
8,0/10
Share This :



0 comments