Berangkat dari memori soal sosok Valak yang pertama kali kulihat di film The Conjuring II (2016) yang bagus dan seru banget, juga The Nun (2018) yang bagus tapi so so, ceklis tontonan baru di bioskop minggu pertama September diisi oleh The Nun II. Besides of that, ku malah melewatkan alias belum nonton sama sekali installment The Conjuring Universe yang tayang duluan, yaitu Annabelle: Comes Home dan The Conjuring: The Devil Made Me Do It karena satu prinsip soal universe horor besar ini, dan The Nun II membenarkan prinsipku selama ini.
Melanjutkan cerita sebelumnya, The Nun II berlatar tahun 1956 atau empat tahun selepas film pertama. Si karakter titular, sister Irene (Taissa Farmiga) sudah paten jadi biarawati di sebuah gereja (?) yang ditemani karakter baru, suster newbie Debra (Storm Reid). Pembantaian dan peristiwa nggak wajar yang melanda gereja se seantero Eropa membuat suster Irene diminta untuk ngelacak soal itu karena dia salah satu yang lolos dari kejadian di film pertama yang kejadian lagi lebih banyak di film kedua.
Sisi lainnya, di sebuah kota wilayah Perancis, Frenchie (Jonas Bloquet) masih dengan profesinya as 'tukang'. Kali ini di asrama putri yang isinya anak-anak sepantaran SD sampai SMP, salah satunya Sophie (Katelyn Rose Downey) yang jadi korban bully kawan-kawannya sampai di satu titik ia menemukan salah satu ruangan tersembunyi di asrama yang bakal jadi penghubung dua bagian cerita di The Nun II.
I should be right, dalam artian The Nun II nambah lapisan ceritanya dengan nggak hanya terpaku pada si suster Irene seperti film pertama. Di The Nun II, ia berbagi tugas dengan para karakter baru, dan Frenchie yang makin dikupas karena bisa dibilang film kedua ini ada karena doi. Cukup menarik dan beda diantara film-film di semesta The Conjuring secara rangkaian alur cerita.
Tapiii...dua bagian cerita Irene dan Frenchie berjalan cenderung monoton minim keseruan. Tetap ada misteri baru yang makin menguak asal muasal si Valak dan masa lalu Irene. I cant spill to much selain lupa juga biar gak spoiler. Intinya, Irene dan Frenchie jadi reunian untuk kembali berhadapan dengan si Valak yang makin galak di pembawaan cerita yang nggak terlalu spesial.
Baru beberapa hari yang lalu tahu dengan jelas siapa sosok yang meranin Valak selama ini. Bonnie Aarons kembali disulap dengan tata rias mujarab dibantu visual efek yang bikin kemunculannya terutama di mode close up bikin bergidik. Michael Caves selaku sutradara sudah berusaha mengatur timing dan bermain dengan ekspektasi penonton melalui jumpscare dan berbagai penampakan kreatif, salah satunya dari lembaran kertas majalah yang sudah muncul di trailer.
Valak yang makin galak, ditunjukan sejak sekuen pembuka yang berkobar api dan berikutnya serangan dan kematian ala thriler berdarah terus terjadi. Di bagian horor inilah The Nun II makin bernyali, terutama di babak ketiga seiring misteri makin terkuak. Melibatkan beberapa karakter belia di asrama putri juga jadi poin plus untuk suguhan terornya, karena mereka ikut terseret dan kena cipratan jadinya ikut gerak dan 'berusaha' bareng karakter senior di momen pamungkas.
Ekspektasi nonton film ini memang nggak muluk-muluk. Minimal bisa terhibur udah cukup. The Nun II better dari yang pertama, karena teror yang makin gacor dan sosok Valak yang makin galak ngelibas siapapun yang dihadapi, tapi sebagai film horor diantara puluhan yang udah tayang di tahun ini, dan ribuan yang sudah ada, The Nun II mungkin bakal banyak dianggap (cuma) sebagai pemenuhan atau pelengkap cerita di semestanya. Boleh jadi the greatest evil in the Conjuring Universe tapi untuk makin memperjelas prinsipku soal semesta horor ini, tolong ingatkan buat eksekusi dua film yang belum ketonton itu hehe 😁
8.0/10
Share This :


0 comments